Mendengarkan Firman

Mendengarkan Firman

Artikel

Mendengarkan Firman

Nehemia 8 : 1 – 10 

Mendengarkan merupakan aktivitas dalam keseharian kita. Mendengarkan lagu-lagu rohani atau renungan dari radio, siaran berita di televisi, suara burung di pagi hari, bunyi mesin outdoor AC, percakapan orang-orang yang melintas di depan rumah, bunyi hujan di atas genting, suara piring dan sendok beradu saat makan, dll. Mendengarkan di sini bersifat umum dan luas, bisa juga secara kebetulan. Ada pula proses mendengarkan yang dilakukan dengan sengaja, sungguh-sungguh dan konsentrasi. Dalam hal ini perlu usaha mengarahkan pikiran dan hati guna menangkap, memahami dan mengingat makna pembicaraan atau informasi yang didengar. Inilah yang terjadi saat umat mendengarkan pembacaan kitab hukum oleh Ezra.

Disebutkan dalam ay. 4, “Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.” Penuh perhatian berarti tindakan memberi perhatian saat mendengar pembacaan, atau mendengar sembari merasakan apa yang sedang didengarkan. Mendengar dengan telinga dan mengarahkan hati serta pikiran sehingga dapat menangkap makna serta mengerti isi kitab yang dibacakan. Terlebih pembacaan kitab hukum dilakukan “dengan diberi keterangan-keterangan” (ay. 9). Penuh perhatian menunjukkan niat dan kesungguhan umat dalam mendengarkan pembacaan kitab. Penuh perhatian menjadi faktor umat mengerti pembacaan bahkan sampai terharu ketika “mendengar kalimat-kalimat Taurat itu” (ay. 10).

Mendengarkan dengan penuh perhatian barangkali sudah jarang kita lakukan. Sebab kadang terjadi kita mendengarkan dengan pikiran terisi berbagai macam asumsi dan pendapat pribadi, sambil memikirkan kata-kata jawaban yang akan disampaikan atau masalah kita sendiri. Mendengarkan sebagai sambèn (sambilan) dengan tanpa meletakkan aktivitas lainnya. Apalagi bila hati sudah tidak suka dengan pembicara atau topik yang dibicarakan membuat kita mendengarkan dengan masa bodoh. Mendengarkan dengan penuh perhatian memang tidak mudah karena banyak godaan, kesukaran, apalagi bila bukan kebiasaan. Meski begitu sangat besar manfaatnya, apalagi mendengarkan firman.

Mendengarkan firman dengan penuh perhatian membuat kita memahami firman sesuai konteks dan maksudnya. Membuat firman terekam dalam memori ingatan serta merasuk menjadi bagian dari perasaan. Membuat kita bisa menemukan makna kehidupan yang menjadi pegangan dan tuntunan. Membuat pikiran tercerahkan dan beroleh hikmat kebijaksanaan dalam mengelola permasalahan dan kesukaran. Membuat kita senantiasa tabah meski bertubi-tubi datang masalah. Membuat kita tekun dan setia meski doa dan harapan belum ada jawabnya. Mendengarkan firman berdampak pada iman, seperti ada tertulis, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Salam. (YAD)