Kudus Dalam Karya

Kudus Dalam Karya

Artikel

Kudus dalam Karya

Lukas 3:7-18 

Salah satu arti kata “pekerjaan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “pencaharian; yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah”. Lalu pekerjaan apa yang disukai oleh Tuhan? Menilik kisah penciptaan di Kejadian 2, Tuhan menempatkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman yang dibuat-Nya (Kejadian 2:15). Itu berarti, bekerja menjadi suatu hal yang melekat pada diri manusia sejak penciptaan. Dengan demikian, mestinya segala jenis pekerjaan yang dilakukan manusia disukai oleh Tuhan karena menjadi cara manusia menghidupi kehidupannya. Berkaca dari ayat bacaan hari ini, bukan jenis pekerjaannya yang jadi masalah, tetapi cara melakukan pekerjaan itu.

Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan. Dia tidak menyerukan supaya para pemungut cukai dan prajurit meninggalkan pekerjaan mereka, yang notabene mendukung pemerintahan Romawi. Yohanes Pembaptis menyerukan bahwa pertobatan mereka adalah dengan melakukan pekerjaan mereka sesuai dengan porsinya. Pemungut cukai memungut tidak lebih dari yang seharusnya dan prajurit tidak merampas atau memeras. Dengan demikian, mereka diajak untuk melakukan pekerjaan mereka tanpa merugikan orang lain. Inilah kiranya yang disebut sebagai kudus dalam karya.

Kudus dalam karya pertama-tama berarti memahami bahwa pekerjaan adalah anugerah dari Tuhan. Tanpa kesempatan untuk bekerja, tak ada pula kesempatan untuk menghidupi diri dan atau keluarga. Berikutnya, karena pekerjaan adalah anugerah, maka diterima dengan penuh cinta dan sukacita. Dengan demikian, pekerjaan akan dijalani dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Bahkan Yohanes Calvin, reformator gereja yang ajarannya diwarisi oleh GKJ, menyerukan bahwa hidup kudus bukanlah menjauh dari dunia, melainkan bekerja dengan tekun. Bekerja adalah kudus.

Mari kita menilik pekerjaan yang telah kita terima dari Tuhan. Mari kita lihat kembali cara kita melakukan pekerjaan kita. Apakah kita menganggap pekerjaan kita adalah anugerah sehingga melakukannya dengan segenap hati? Ataukah kita menganggap pekerjaan sebagai beban sehingga kita mengerjakannya dengan penuh sungut-sungut atau kemalasan? Apakah kita masih menganggap bahwa yang kudus adalah melayani di gereja, sementara bekerja bukan sesuatu yang kudus? Ataukah kita mewujudkan kekudusan hidup dalam pekerjaan kita? Kiranya kita bisa menerima pekerjaan dengan sukacita sehingga kita hidup kudus dalam menghasilkan karya melalui pekerjaan kita. (thie)