MENJADI JALAN BERKAT TUHAN

MENJADI JALAN BERKAT TUHAN

Artikel

MENJADI JALAN BERKAT TUHAN

(LUKAS 1:68-79) 

Nyanyian pujian Zakharia adalah rentetan kata-kata pertama yang terucap setelah dia mengalami kebisuan selama kurang lebih sembilan bulan. Dia menjadi bisu karena tidak percaya kepada perkataan malaikat Gabriel yang menyatakan berita tentang kelahiran Yohanes baginya (1:20). Dan rupanya Zakharia sadar bahwa itu adalah dampak dari kesalahannya dan dia tahu bahwa "sampai kepada hari di mana semuanya ini terjadi," dia akan bisa berkata-kata lagi. Dalam penantiannya membuka mulut kembali, sepertinya terjadi pergolakan batin yang berpuncak pada kesadaran akan kesalahannya (pertobatan). Itulah sebabnya saat bisa berkata-kata lagi, dia mengawalinya dengan pujian syukur bagi Tuhan (ayat 68-75). Fokus nyanyian pujiannya tidak pertama-tama tertuju kepada Yohanes, anak yang didambakan, melainkan kepada Tuhan kebih dulu. Ini mengingatkan kita akan kisah Abraham yang mengutamakan Tuhan dibandingkan Ishak, anaknya. Atas perintah Allah untuk mempersembahkan anaknya, Abraham patuh dan menurut penuh. Selanjutnya, setelah Zakharia menaikkan pujian kepada Tuhan, barulah perhatian kepada anaknya diberikan: "Dan engkau, hai anakku, ... mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera" (ayat 76-79).

Menyadari kesalahan adalah hal wajar, meskipun tidak semua orang bisa melakukannya. Akan tetapi mengubah perilaku dan sikap hidup setelah sadar dari kesalahan, adalah hal lain yang mungkin sulit dilakukan oleh beberapa orang. Zakharia sadar akan kesalahannya karena tidak percaya janji Tuhan melalui Gabriel, namun segera berbalik dari kesalahannya dengan memuji Tuhan setelah bisa berkata- kata. Dia sadar bahwa dirinya menjadi jalan berkat bagi anaknya dan anaknya akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian dan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka (ayat 77).

Lalu apa dan bagaimanakah dampak cerita ini bagi kita dan gereja? Pertama, soal kemampuan berkata-kata. Setelah bisu selama sembilan bulan dan bisa berbicara lagi, Zakharia terlebih dahulu memuji dan memuliakan Tuhan. Kita mungkin tergolong orang yang tak punya akses berbicara untuk menyuarakan aspirasi. Namun di era global dengan teknologi medsos sekarang ini, kita telah berubah menjadi juru warta yang bisa berbicara apa saja dan kapan saja. Bagaimanakah kita memakai kesempatan berbicara atau menyampaikan aspirasi? Apalagi jika ada di antara kita yang menjadi seorang caleg, apa dan bagaimana aspirasi kita bagi masyarakat dan bangsa? Lebih pada hujatan, ujaran kebencian, kritik membangun atau pujian? Kedua, mampukah kita menyadari kesalahan dan mengubah perilaku serta sikap hidup, setelah sadar dari kesalahan? Setelah sadar bahwa selingkuh itu keliru, bagaimana kita hendak menjadi pribadi yang setia dan bilamanakah kita melibatkan gereja di dalamnya? Setelah tahu bahwa sikap sewenang-wenang (terhadap sesama dan semesta) itu merugikan orang lain, apakah bentuk pertobatan kita dan bagaimanakah kita bisa lebih lagi menghargai sesama dan semesta? (SAN)