Spiritualitas Memberi

Spiritualitas Memberi

Artikel

Spiritualitas Memberi

Yoh 6:1-21

Bacaan Yoh 6:1-21, mengisahkan dua hal yang berbeda baik dalam konteks peristiwa, maupun tempatnya. Sebab yang satu terjadi di gunung dan satunya lagi di danau, meskipun keduanya ada di daerah Galilea. Di ayat 3 disebutkan Tuhan Yesus naik ke gunung, bagi orang Israel gunung selalu diberi konotasi sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan manusia. Ketika di ayat berikutnya ada keterangan waktu dengan menyebut perayaan Paskah, maka peristiwa Tuhan Yesus dan murid-muid naik ke gunung menghantarkan pembaca Injil Yohanes untuk kembali mengenang perjalanan leluhur mereka ketika keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Di atas gunung Musa menerima dua loh batu yang berisi 10 hukum, sebagai pondasi ikatan antara umat dengan Allah dan jaminan karya pemeliharaan Allah jika Israel setia melakukannya. Dalam konteks Injil Yohanes karya pemeliharaan itu ditegaskan ada di dalam Kristus dengan melakukan mujizat memakai lima roti jelai dan dua ikan, untuk orang yang berbondong-bondong mengikutiNya.

Sebelum karya mujizat itu dilakukan, diawali dialog antara Tuhan Yesus dengan Filipus dengan tujuan untuk menguji iman Filipus. Memperhatikan ayat 5-7, terlihat jelas bahwa Tuhan Yesus meng- hendaki adanya respon, atau tindakan empati, peduli, dari Filipus terhadap orang banyak itu sebagai wujud dari imannya. Sehingga iman tidak hanya sebatas pemahaman yang diyakini, tetapi keyakinan akan Tuhan yang melahirkan tindakan peduli, empati dan memberi. Sayang respon Filipus mengesankan cara beriman yang matematis, artinya mendahulukan perhitungan cukup-tidak cukup, daripada dorongan atau tindakan untuk menolong (ayat 7). Cara Filipus yang memakai perhitungan matematis ini, direspon dengan 180 derajat berbanding terbalik. Perbandingan terbalik itu terjadi ketika Tuhan Yesus berkenan memakai roti jelai yang dimiliki seorang anak. Seorang anak dalam kehidupan orang Yahudi tidak pernah diperhitungkan keberadaannya di dalam pertemuan massal, roti jelai adalah jenis roti yang menjadi makanan orang miskin. Dari yang tidak pernah diperhitungkan {anak} dan juga dengan makanan yang sangat sederhana {makanan si miskin}, Tuhan Yesus telah memberi dengan berlimpah atas salah satu kebutuhan yang paling dasar bagi hidup manusia yaitu makanan. Memperhatikan perintah agar orang- orang duduk di atas rumput (10,11) menjadi gambar atau perlambang relasi antara gembala dengan ternak gembalaannya. Dengan ini Yohanes menunjukkan jika Tuhan Yesus adalah Sang Gembala sedangkan orang-orang yang mengikutinya adalah kawanan domba yang digembalakanNya. Sang Gembala men- jamin kehidupan dombaNya sebab Ia memberi dengan berlimpah apa yang dibutuhkan oleh dombaNya.

Kisah Tuhan Yesus berjalan di atas air dalam Injil Yohanes dikisahkan lebih singkat dibandingkan dengan Injil Matius dan Markus. Sekalipun dikisahkan dengan singkat namun kata “Inilah Aku, jangan

takut!” (ayat 20) telah menjadi kata kunci sekaligus merangkum isi dan pesan dari kisah Tuhan Yesus berjalan di atas air. Kata itu menjelaskan dan menegaskan jika Tuhan Yesus selalu hadir dalam kehidupan para pengikutNya dimanapun mereka berada, dan Ia berkenan menolong menyelamatkan dan membebaskan pengikutnya dari ancaman maut.

Kisah Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang dan berjalan di atas air mengajar dan menunjukkan kepada kita prihal Ia yang hadir dimanapun kita berada baik itu di gunung maupun di lembah (danau). KehadiranNya untuk memberikan jaminan atas kebutuhan kita bahkan jaminan kita luput terbebas dari maut. Dengan ini sejatinya hidup kita tidak pernah terlewatkan dari anugerah atau pemberian Tuhan dengan berbagai macam jenis ragamnya. Ketika dengan dasar Yohanes 6:1-21, kita diharapkan memiliki spiritualitas atau dorongan dengan dan dalam penghayatan iman untuk memberi, maka tindakan memberi itu kita lakukan dengan berpijak pada keyakinan bila Tuhan sudah lebih dulu memberikan apa yang kita butuhkan. Baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Dengan demikian kita memberi karena kita sudah memiliki, sebab Tuhan sudah lebih dulu diberi kepada kita. Jadi gemarlah untuk memberi; perhatian, empati, pertolongan, kepedulian, kasih, waktu, dll, karena kita sudah menerima dan memiliki. Jadikanlah iman kita iman yang berbuat dan bertindak, dengan tidak matematis {jawa; aja itung amarga gunane, lan ajine urip iku yen tetulung}, Amin. (SWD)