Pengampunan, Pemulihan dan Pendamaian

Pengampunan, Pemulihan dan Pendamaian

Artikel

Pengampunan, Pemulihan dan Pendamaian

Efesus 2:11-22 

Pengertian pengampunan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pembebasan dari hukuman atau tuntutan. Pengampunan juga sering diidentikkan dengan memaafkan seseorang atau sesuatu perbuatan dan berhenti menyalahkan atau merasa dendam terhadap suatu perbuatan atau pelaku perbuatan itu. Dengan adanya pengampunan itu maka pemulihan hubungan antara dua pihak bisa tercapai hingga akhirnya keduanya merasakan damai sejahtera. Pengampunan itulah cara yang dipakai Allah untuk memulihkan hubungan kita dengan Dia dan seharusnya itu juga merupakan cara kita untuk memulihkan hubungan dengan orang lain. Kita saling mengampuni seperti Allah di dalam Kristus sudah mengampuni kita.

Seperti teguran Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus di mana terdapat kelompok orang Yahudi dan non Yahudi. Dua kelompok ini sesungguhnya tidak mudah untuk disatukan (diperdamaikan). Orang Yahudi memegang teguh hukum Taurat dan menganggap dirinya adalah umat Allah, sedangkan orang non Yahudi – sering disebut orang-orang yang tidak bersunat – bukan termasuk umat Israel dan karena itu tidak punya hak akan janji-janji Allah, tanpa pengharapan, tanpa Allah (kafir), jauh dari Allah, orang asing, tidak mendapat harapan untuk keselamatan, bahkan mereka tidak mendapat kesempatan untuk bisa mengenal dan berjumpa dengan Allah.

Akan tetapi Paulus menjelaskan bahwa melalui karya Kristus tidak ada lagi anggapan atau pembedaan yang demikian. Di dalam Kristus, dulu yang jauh kini menjadi dekat, telah dipersatukan, tembok pemisah yaitu perseteruan telah dirobohkan. Kematian Kristus menciptakan manusia baru, telah mendamaikan keduanya dengan melenyapkan perseteruan pada salib, melalui Kristus kita semua mendapat jalan masuk kepada Bapa, melalui Kristus semua menjadi keluarga Allah. Salib-Nya telah memperdamaikan manusia dengan Allah, serta manusia dengan manusia. Ia memberikan damai sejahtera kepada umat-Nya, menjadikan mereka orang-orang kudus, anggota-anggota keluarga Allah, dan menjadi tempat kediaman Allah.

Melalui firman ini kita diingatkan bahwa perbedaan bisa menjadi perpecahan kalau tidak adanya penerimaan dari satu pihak dan pihak lainnya. Saling menerima dan memberi pengampunan menjadi hal yang penting dalam relasi kita dengan sesama. Allah sendirilah yang sudah meneladankannya dengan kasihNya yang luar biasa telah menerima kita manusia berdosa untuk memiliki damai sejahtera dengan- Nya dan dengan sesama. Kita, orang-orang percaya yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, setelah percaya akan karya penebusan ini, mengakui bahwa kita adalah satu dalam Kristus. Untuk itu mari kita menghayati akan pengorbanan Yesus supaya kita semakin meneladan untuk mengampuni, memulihkan dan hidup damai dengan sesama. Imanuel. (Cis)