KUASA ALLAH ATAS UMAT-NYA

KUASA ALLAH ATAS UMAT-NYA

Artikel

KUASA ALLAH ATAS UMAT-NYA

AYUB 38:1-11

Suatu ketika dalam kegiatan gereja, seorang “kakak rohani” meminta saya untuk menceritakan segala dosa saya dan minta ampun di hadapan Tuhan. Waktu itu saya adalah seorang remaja yang baru saja masuk dalam pelayanan sebagai anggota Komisi Remaja. Sebagai pelayan, maka saya harus hidup kudus dan berkenan di hadapan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan bertobat sebelum melayani. Saya sendiri bingung harus bercerita seperti apa. Waktu itu kami saling berhadapan: seorang anggota komisi yang baru dengan seorang “kakak rohani.” Sebagian teman-teman saya menangis menceritakan dosanya, tapi saya malah bingung dan tetap bungkam. Bukannya saya merasa suci dan tidak pernah berbuat dosa, sejatinya mengaku dosa dan bertobat adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan senantiasa (Lih. PPA GKJ Pert-Jwb 59., Hlm. 24).

Cara pandang dunia pelayanan sebagaimana saya ceritakan, adalah cara pandang yang dipengaruhi konsep berpikir retributif: saya memberi, maka saya menerima. Saya mengaku dosa, maka saya terberkati. Saya ke gereja, maka saya luput dari petaka (termasuk sakit-penyakit dan kedukaan). Saya berpersembahan, maka hasil kerja saya akan digandakan. Tidakkah justru sebaliknya? Saya terberkati, maka saya akan menjaga hidup kudus di hadapan Tuhan. Saya adalah umat milikNya, maka saya datang memuji Tuhan di gereja. Saya telah menerima berkat dari pekerjaan saya, maka berkat itu saya persembahkan untuk Tuhan. Meskipun sebenarnya Tuhan tidak membutuhkan persembahan kita. Allah kita kaya, sebab Tuhanlah yang empunya dunia dengan segala isinya (Mazmur 50:10-12).

Apakah yang terjadi dengan kisah Ayub? Teman-teman dan sahabat Ayub berpandangan secara retributif (Ayub 8:5-7), bahwa apa yang menimpa Ayub pastilah hasil dari perbuatan dosanya di masa lalu. Ayub harus bertobat agar keadaannya dipulihkan. Namun Ayub berpandangan lain, sebab dia memang terbukti saleh dan jujur (Ayub 1:1). Dia bahkan menghardik teman-temannya sebagai penghibur sialan (Ayub 16:2). Ayub sadar akan hal itu, bahwa bencana dan penderitaan tidaklah berhubungan dengan apa yang dilakukan manusia terhadap Tuhan dan bahwa penderitaan bisa datang kapan saja, atas siapa saja. Kesalahan Ayub (menurut saya) adalah tidak kunjung menyadari bahwa Tuhan ada bersama-sama dengannya, Tuhan ikut menanggung penderitaan itu bersama Ayub. Ayub seolah-olah mempertanyakan keberadaan Tuhan yang tidak mempedulikannya. Maka dari dalam badai, Tuhan menjawab Ayub (ayat 1) dan terus menyatakan kemahadariran Allah (omnipresent) dan kemahakuasaan Allah (omnipotent). Pernyataan itu terbentang di ayat 2-11 sebagai pernyataan yang tak tersanggahkan. Akhirnya Ayub sadar akan kuasa dan kehadiran Allah atas umatNya (Ayub 42:5-6), lalu mencabut semua perkataannya. 

Apakah kita akan memikirkan hal yang sama dengan Ayub, bahwa apa yang terjadi atas hidup kita tidaklah disebabkan oleh murka Allah atau hukuman Tuhan? Bisakah kita memuji dan memuliakan Tuhan serta berpersembahan tanpa mengharap akan mendapatkan balasan dari Tuhan, melainkan sebagai ungkapan wujud syukur? Bukankah Tuhan tidak berhutang atas apa yang terjadi dan yang tidak terjadi terhadap manusia? Justru kitalah yang berhutang atas hidup ini di hadapan Tuhan. Kitalah yang harus bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang terjadi dalam hidup, seraya menjaga sikap hidup kudus di hadapan kuasa takhtaNya yang maha tinggi. (SAN)