Roh Kudus Mampukan Kita Mewartakan Kasih Bagi Sesama

Roh Kudus Mampukan Kita Mewartakan Kasih Bagi Sesama

Artikel

Roh Kudus Memampukan Kita Mewartakan Kasih Bagi Sesama

Yohanes 15:26-27; 16:4b-15 

Tepat seminggu yang lalu, kita dikejutkan oleh meledaknya tiga bom di tiga gereja di Surabaya. Perasaan sedih, prihatin, marah, lelah, dan kecewa mungkin bercampur dalam benak setiap warga bangsa Indonesia. Kerukunan dan keharmonisan yang dijalin seperti dikoyak dan dicabik-cabik. Namun segera setelah peristiwa itu terjadi, banyak orang segera menuju PMI untuk mendonorkan darah bagi para korban. Malamnya, di berbagai kota, didukung oleh warga dari berbagai latar belakang agama, diselenggarakan doa bersama untuk perdamaian. Dukungan dana bagi para korban pun mengalir dengan tulus dan tak henti. 

Kisah penderitaan dan penganiayaan kiranya bukan hal baru bagi orang percaya, bahkan bagi seluruh umat manusia. Ketika ada sekelompok orang yang merasa bahwa dirinya dan kelompoknya adalah satu-satunya yang benar, orang dan kelompok lain yang berbeda boleh, atau bahkan harus, dihapuskan dari muka bumi. Namun kisah penderitaan dan penganiayaan tidak pernah mematikan nyala api kasih, seperti beribu lilin yang dinyalakan bersama doa-doa yang dipanjatkan sejak seminggu yang lalu. Mengapa orang tetap berani di tengah teror yang mengancam nyawa? Kehadiran Penghibur menjadi jawaban bagi kita. 

Hari ini kita merayakan Pentakosta, hari turunnya Roh Kudus. Siapa Roh Kudus itu? Berhari-hari sebelum peristiwa itu terjadi, Yesus telah memberitahukan bahwa saat Dia tak ada lagi secara fisik bersama para murid, ada Penghibur yang akan diutus-Nya. Dialah yang menjalankan peran Yesus untuk memimpin dan menguatkan para murid. Dia juga yang bersaksi mengenai Yesus dan memampukan para murid menyatakan kesaksian yang sama. Kesaksian akan apa? Akan kasih Tuhan kepada semua orang. 

Bagaimana dengan kita sekarang? Kesaksian itu dapat mewujud dalam sangat banyak hal: dukungan doa dan dana bagi para korban bom; kesediaan untuk terbuka berelasi, bahkan bersahabat (seperti bahan sarasehan masa Pentakosta) dengan semua orang; kata-kata, kiriman di media sosial, dan tindakan yang meneduhkan; pengampunan bagi pelaku; dan segala upaya untuk menumbuhkan jiwa kebangsaan dan persaudaraan.

Sang Penghibur telah dicurahkan. Bersediakah kita dipimpin oleh-Nya? (thie)