Kemuliaan Allah Dalam Taurat-Nya

Kemuliaan Allah Dalam Taurat-Nya

Artikel

Kemuliaan Allah Dalam Taurat-Nya

Keluaran 20 : 1 – 17 

Thomas Hobbes dalam buku “Leviathan” membayangkan keadaan sebelum Negara berdiri. Dalam keadaan itu kebebasan setiap orang bisa menjadi ancaman bagi kebebasan orang lain. Kehidupan bersama dalam keadaan seperti itu jelas menghadirkan kekacauan sosial. Dengan cara itu setidaknya kita bisa membayangkan potensi kekacauan yang dapat terjadi dalam kumpulan orang-orang yang keluar dari negeri Mesir dalam kitab Keluaran.

Selain orang Israel yang jumlahnya enam ratus ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak- anak, turut bergabung orang-orang dari berbagai-bagai bangsa. Mereka tidak memiliki tatanan hidup bersama mengingat empat ratus tahun diperbudak dan hidup di negeri bangsa lain. Keluar dari Mesir berarti hidup dalam kebebasan. Kebebasan tanpa tatanan menghasilkan kekacauan.

Bagi orang Israel mereka tahu tentang Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, namun mereka belum mengenal-Nya. Tak kenal maka tak sayang. Karena tidak mengenal bagaimana mereka bisa mengasihi Allah dan hidup sesuai kehendak-Nya? Peristiwa sepuluh tulah hingga laut Teberau terbelah menjadi permulaan mereka belajar mengenal Allah dan kemuliaan-Nya. Sekarang dengan kesepuluh firman mereka punya tuntunan sekaligus tatanan hidup bersama. Melalui kesepuluh firman Allah menunjukkan isi hati-Nya, apa yang berkenan bagi-Nya. Melalui perbuatan dan firman-Nya Allah menyatakan kemuliaan-Nya.

Kesepuluh firman mengajarkan umat hidup pertama-tama dalam kesetiaan dan ketekunan, lalu dalam menggunakan akal, kreatifitas serta hasilnya (tekhnologi) demi kemuliaan Allah. Ia juga mengajarkan umat berperilaku hormat karena sebagai umat nama Allah melekat, serta supaya bijak mengelola waktu (kehidupan) dalam Tuhan. Demikian pula kesepuluh firman mengajarkan umat hidup mulia melalui perilaku hormat pada orangtua serta menghargai hidup tiap-tiap manusia. Hidup mulia dipraktikkan dengan menjaga anggota tubuh tidak dikuasai nafsu, baik nafsu seksualitas maupun nafsu atas hak milik orang lain, berkata-kata benar, serta memelihara diri dari keinginan tak wajar. Kesepuluh firman menuntun umat pada kebebasan yang bertanggung jawab, sekaligus menjadi sarana umat mengenal Allah dan kemuliaan-Nya.

Minggu ini kita memasuki Pra-paskah ketiga bertepatan dengan Hari Doa Sedunia. Dengan meneladan kerendahan hati Kristus kita senantiasa belajar mengenal Allah dan kemuliaan-Nya melalui firman-Nya. Sebab bila kita hidup dalam firman Allah itu tandanya kita mengenal Allah. Bila kita hidup dalam firman Allah berarti kita hidup dalam kemuliaan-Nya. Dengan menaati firman Allah berarti kita hidup dalam tatanan Allah yang menghadirkan kedamaian bagi dunia. Bila mengaku sebagai umat Allah namun tidak hidup dalam firman-Nya tidakkah itu menyangkali dan menghinakan Allah? Salam. (YAD)