Menyangkal diri, memikul salib, mengikut Yesus

Menyangkal diri, memikul salib, mengikut Yesus

Artikel

Menyangkal diri, memikul salib, mengikut Yesus

Markus 8:31-38

Baru saja Petrus membuat pernyataan yang mengagumkan bahwa Yesus adalah Mesias (Markus 8:29), kini dia malah dimarahi sebagai Iblis (Markus 8:33). Tampaknya Petrus salah memahami makna mesias. Bisa jadi yang dia bayangkan adalah mesias sebagai seorang raja yang berkuasa dan menang seperti kisah-kisah kepahlawanan para raja pada masa lalu. Bisa jadi dia membayangkan Yesus akan berubah dari seorang Guru sederhana menjadi seorang pemimpin politik yang akan membebaskan orang Yahudi dan Yerusalem dari kekuasaan pemerintah Romawi. Atau paling tidak, mungkin dia membayangkan bahwa Yesus akan menjadi orang berpengaruh yang mengubah kondisi sosial ekonomi pada saat itu. Namun nyatanya, Yesus malah mengatakan bahwa Dia akan menderita dan mati (Markus 8:31). Tampaknya kata ”bangkit” tidak diperhatikannya, karena memang tidak masuk akal ada orang mati yang bangkit lagi.

Kemarahan Yesus menunjukkan betapa pentingnya memahami Yesus dari sisi yang berbeda. Kehendak Allah tidaklah selalu seperti yang dibayangkan oleh manusia. Jalan Tuhan berkarya tidak harus seperti harapan manusia. Ketika penyelamatan dibayangkan sebagai tindakan heroik yang mengagumkan, karya keselamatan Allah justru dilakukan melalui jalan penderitaan dan kematian. Bukan berarti Allah mengagungkan penderitaan dan kematian. Melalui jalan ini, Dia justru menunjukkan solidaritas-Nya kepada manusia yang tak pernah lepas dari penderitaan dan kematian dalam dunia ini. Namun melalui kebangkitan-Nya, tampaklah bahwa kuasa-Nya melebihi kuasa penderitaan dan kematian.

Pada saat yang sama, kemarahan Yesus menunjukkan bahwa dengan mengikut Yesus, bukan berarti para murid akan lepas dari penderitaan dan kematian. Sebaliknya, mereka justru harus siap menghadapi itu semua. Kalau mereka mengikut Yesus, mereka pun akan menapaki jalan yang sama dengan Yesus. Mereka harus siap menderita dan mati. Setelahnya, mereka pun akan turut dalam kebangkitan Yesus.Penderitaan itu mewujud dalam kesediaan menyangkal diri. Segala yang menyenangkan dan membuat nyaman, sering kali harus ditinggalkan untuk sungguh-sungguh mengikut Yesus. Hal itu sama halnya dengan orang yang memikul salib: hina di depan manusia karena setia melakukan kebenaran. Namun jika bersedia melakukannya, itu sama halnya dengan turut mewujudkan Kerajaan Allah (Markus 9:1) dan Tuhan tidak akan malu mengakui kita sebagai anak- anak-Nya (Markus 8:38). (Thie)