Perjanjian Cinta Kasih

Perjanjian Cinta Kasih

Artikel

PERJANJIAN CINTA KASIH
KEJADIAN 9:8-17

Hampir setiap hari saya mengucapkan: “I love you” kepada istri dan anak-anak. Entah mengapa, semua mengalir begitu saja . Tidak merasa terpaksa, juga tanpa tekanan dari pihak manapun. Namun demikian, saya sadar bahwa ucapan menjadi tidak bermakna tanpa tindakan. Oleh karenanya, ucapan itu memicu saya untuk selalu berperilaku penuh cinta kasih kepada keluarga. Saya dan istri beserta anakanak, membangun cinta kasih dan menjadikannya dasar utama dalam menjaga keutuhan relasi. Tanpa cinta kasih, relasi menjadi hambar dan penuh basa-basi.


Dalam menjalin relasi dengan ciptaan, Tuhan Allah lebih dulu menjadikan cinta kasih sebagai dasar utama. Pasca peristiwa air bah, Tuhan mengadakan perjanjian kekal (Ibrani: berit olam) didasari cinta kasih (Ibrani: berit shalom). Hal itu dinyatakan kepada Nuh dan keturunannya, serta bumi dengan segala isinya (ayat 9-11). Tuhan Allah mengucapkannya setelah mereka keluar dari bahtera. Itu berarti
keselamatan kekal (melalui perjanjian kekal) terjadi ketika Nuh keluar dari bahtera, bukan sebaliknya! Namun kecenderungan gereja sekarang adalah membangun “bahtera” dan masuk ke dalamnya untuk berlindung. Bahteranya adalah tembok eksklusivisme yang membuat masyarakat semakin tersekat. Konsep keselamatan gereja seolah-olah terbalik dengan konsep keselamatan yang dinyatakan Allah. Dalam teks bacaan, keselamatan jelas terjadi setelah mereka keluar dari bahtera. Artinya gereja harus keluar dan memandang sekitar. Sadar akan keberadaan, peran dan posisinya di dunia.

Namun kita patut bersyukur, sebab GKJ Gondokusuman tampaknya menyadari hal itu. Kegiatan - kegiatan yang berorientasi keluar, sedang dan terus digalakkan. Kegiatan kenduri bersama warga di sekitar gereja dalam rangka HUT, bakti sosial, pelayanan kesehatan, distribusi air bersih, bimbingan belajar, serta kegiatan lain yang diarahkan dan untuk orang-orang di luar gereja, adalah contoh nyata sumbangsih GKJ Gondokusuman keluar. Juga aktivitas di organisasi-organisasi sosial keagamaan yang diikuti para Pendeta, program-programnya senantiasa berorientasi keluar. Semua itu perlu dipertahankan dan dikembangkan di tahun-tahun yang akan datang. Termasuk penggunaan sarana prasarana yang dimiliki gereja, perlu dipikirkan dan diatur sedemikian rupa, sehingga berorientasi keluar. Sekarang ini penggunaan mobil ambulance tidak saja diperuntukkan bagi warga gereja dan kelak penggunaan gedung pertemuan (setelah selesai dibangun), perlu diatur dan ditata agar dapat digunakan secara umum.

Rupanya aktivitas yang berorientasi keluar, mendatangkan keindahan yang menakjubkan. Maka marilah kita keluar dari bahtera untuk melihat keindahan pelangiNya. Senantiasa menengadah untuk melihat pelangi dan ajaran cinta kasih dari Tuhan Allah melalui alam ciptaanNya (Tumengeng Wulang Pranawaning Jagad), seraya mengucap lembut kepada GKJ Gondokusuman: “I love you.” (SAN)