Kemuliaan Kristus Menerangi Umat Menghadapi Kenyataan

Kemuliaan Kristus Menerangi Umat Menghadapi Kenyataan

Artikel

Kemuliaan Kristus Menerangi Umat Menghadapi Kenyataan

Markus 9:2-9 

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu

Kemesraan ini ingin ku kenang selalu

Hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu

Hatiku damai jiwaku tentram bersamamu."

Penggalan lagu Iwan Fals di atas mencerminkan kecenderungan yang dimiliki oleh manusia, yang ingin mempertahankan bahkan melanggengkan segala hal yang bisa mendatangkan rasa senang, membahagiakan dan menyebabkan suka cita di hati. Sebaliknya manusia berusaha menghidar bahkan meniadakan semua hal yang menyebabkan kepedihan hati, kesengsaraan, penderitaan dan yang sejenisnya. Hal lain yang semakin mempertegas kecenderungan tersebuat adalah; ketika merasa bahagia, waktu seakan begitu cepat berlalu, sebaliknya ketika sedang menderita seakan waktu begitu lambannya bahkan terasa tidak pernah beranjak.

Setelah Tuhan Yesus memberitahukan kepada murid-murid prihal penderitaanNya untuk kali pertama, ada peristiwa transfigurasi. Yaitu wajah Yesus yang berubah dalam kemuliaan yang juga ditandai dengan jubah yang dikenakan menjadi putih berkilauan. Peristiwa yang sangat penting ini menjadi semakin istimewa karena kehadiran dua tokoh besar yang masing-masing juga memiliki peran penting dan besar dalam sejarah Israel, yaitu Musa dan Elia. Kehadiran Musa dan Elia dirangkaian peristiwa penderitaan Yesus, tentunya terkait erat dengan penderitaan Yesus itu. Dengan demikian kehadiran Elia dan Musa dapat dimaknai untuk turut mempersiapkan dan meneguhkan Yesus dalam memasuki dan menjalani karya yang besar dan berat karena harus menanggung kesengsaraan hingga wafatNya di kayu salib, untuk keselamatan isi dunia.

Namun sayang ketiga murid yang turut mengiringi Yesus ke gunung dan menyaksikan peristiwa transfigurasi Yesus hanya menangkap sepenggal saja dari keseluruhan peristiwa. Tuhan Yesus memang mengalami kemuliaan tetapi kemuliaanNya itu melalui proses penderitaan yang tidak ringan. Sementara para murid hanya ingin kemuliannya saja bahkan berusaha menguasai dan melanggengkan menjadi milik mereka. Hal itu tercermin dan terwakili dari pernyataan Petrus di ayat ke-5. Respon dari keinginan para murid ternyata berbanding terbalik “...Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia {dengarkanlah = akouw = taatilah} ayat 7.

Sikap orang Kristen masih banyak yang serupa dengan para murid yang turut mengiringi dan menyaksikan transfigurasi Yesus. Hanya mau kemulianNya, dan mengesampingkan penderitaanNya. Orang Kristen dengan imannya memang perlu bahkan harus terus-menerus meyakini bahwa Tuhan Yesus sudah ada dalam kemulianNya, namun jangan lupa kemulianNya ditempuh dengan jalan penderitaan dan kesengsaraan. Keyakinan orang Kristen tentang Tuhan Yesus yang ada dalam kemuliaan, mestinya tidak membuatnya “mabuk” dengan pemahaman hidup orang Kristen pasti serba indah, mudah, tidak sakit, tidak punya masalah, tidak punya persoalan, tidak punya beban, tidak punya pergumulan. Orang Kristen masih ada di dunia dengan segala realitanya, namun dengan kemuliaan Tuhan Yesus orang Kristen dituntun dan diterangi menjadi pribadi yang “TATAG DAN TANGGON” dalam menghadapi kehidupan dengan ketaatan. Sebagaimana Dia tatag dan tanggon masuk dan menjalani penderitaanNya. {swd}