Baptisan yang Memerdekakan

Baptisan yang Memerdekakan

Artikel

BAPTISAN YANG MEMERDEKAKAN

MARKUS 1:4-11 

Apa dan bagaimanakah makna baptisan itu sebenarnya? Benarkah kita selaku orang Kristen yang telah dibaptis, telah memahami dan mengetahui konsekuensi dari baptisan? Dalam Pokok-pokok Ajaran GKJ disebutkan, baptisan adalah sarana pernyataan dan pemeliharaan iman yang menunjukkan pembasuhan manusia dari dosanya, pengampunan atas dosa, pembenaran oleh Allah atas manusia dan kelahiran baru. Makna ini melekat dalam proses baptisan dan (mestinya) dalam sikap dan cara hidup orang yang telah menerima baptisan. Namun kenyataan bisa berbicara lain. Mari kita coba telusuri dan refleksikan sejenak.

Pada tahun 1965 banyak orang menjadi Kristen dan memberi diri dibaptis, demi tidak dianggap tak beragama. Pada akhirnya, baptisan sebagai tanda pengikut Kristus, justru memudar maknanya. Di era sekarang, setali tiga uang alias tak banyak bedanya. Baptisan tidak benar-benar menjadi tanda pertobatan, tapi sekedar prasyarat untuk menikah, menunjukkan arogansi, gengsi, bahkan manipulasi, melenceng dari yang ditandakan. Wujud arogansi dan manipulasi, misalnya: orang yang dibaptis meyakini diri selamat, lalu (secara arogan) menyebut yang lain tidak selamat. Padahal hidupnya masih penuh manipulasi. Rajin ke gereja, sekaligus rajin korupsi dan tidak setia terhadap keluarga. Baptisan sebagai ajang pamer gengsi, misalnya gereja tertentu yang tidak mengakui, bahkan merendahkan baptisan gereja lain karena dianggap tidak sah. Lalu jemaat "dipaksa" baptis ulang dengan cara yang sah menurut gerejanya.

Berkutat di sekitar hal-hal teknis baptisan, justru membuat orang terjebak dan tidak merdeka dalam beriman. Sepertinya sudah baptis, tapi masih dibelenggu sikap dan cara hidup lama. Masih terjebak dalam kebingungan soal sah atau tidaknya model baptisan. Padahal sah tidaknya baptisan ditentukan oleh penggunaan air sebagai unsur dasarnya dan dilakukan dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (PPA GKJ No. 133-135). Dalam bacaan kita, melalui peristiwa baptisan Yohanes atas diri Tuhan Yesus, Tuhan Yesus sungguh-sungguh menunjukkan sikap menghamba sebagai Anak Allah dan setia kepada BapaNya. Tuhan Yesus tunduk kepada Bapa, sebab sadar akan tugas perutusanNya di bumi sebagai Anak yang dikasihi. Anak yang dikasihi itu datang untuk menyelamatkan dan mencari yang terhilang dan membaptis kita sekalian dengan Roh Kudus. Seraya demikian kita diingatkan agar tidak terjebak kepada simbol baptisan, namun mampu menghidupi makna baptisan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah-kisah sebelumnya yang tersaji di tahun 1965 adalah contoh ketidaksetiaan dan keterjebakan dalam memahami baptisan. Namun saya yakin dengan berjalannya waktu, mereka semua (termasuk kita) akan mengalami baptisan Roh Kudus. Sebab dibalik fakta-fakta itu, tetaplah ada pribadi-pribadi yang menghargai dan memahami makna baptisan. Mereka sadar dan menghidupi kekristenan secara tulus, penuh sukacita dan pengharapan. Merekalah orang-orang merdeka di dalam Kristus. Mereka ada dalam relasi yang hangat dan baik dengan Tuhannya. Nah, sekarang ini sebagai refleksi pribadi, di posisi manakah kita berada? (SAN).