Bersukacita Karena Hidup Jujur

Bersukacita Karena Hidup Jujur

Renungan

Yohanes 1:6-8, 19-28 

Elisabet dan Zakharia, keduanya adalah orang yang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat (Luk 1:6). Tetapi mereka tidak mempunyai anak sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya (Luk 1:7). Namun kemudian malaikat berkata kepada Zakharia supaya jangan takut, sebab doanya telah dikabulkan, Elisabet akan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka harus menamai dia Yohanes (Luk 1:13). 

Yohanes diutus Allah, tugas besarnya adalah sebagai saksi-Nya. Yohanes memberi kesaksian tentang terang yang sedang datang ke dalam dunia, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya (Yoh 1:7,9). Yohanes menjalankan tugas penting tersebut dan juga pelayanannya membaptis. Maka orang Yahudi mengutus beberapa imam dan orang-orang Lewi bertanya kepada Yohanes. Mereka mempertanyakan siapakah Yohanes serta mengapa dia membaptis, apakah Mesias, Elia atau nabi. Yohanes mengaku dan tidak berdusta, bahwa dia bukan Mesias, bukan Elia, dan juga bukan nabi. 

Yohanes berkata jujur bahwa dirinya bukanlah orang-orang hebat yang disebutkan (Mesias, Elia, nabi), namun dia mengaku bahwa dia hanyalah “suara” yang mengajak supaya orang bertobat, memberi diri dibaptis dan Allah akan mengampuni dosa (Mark 1:3,4). Bahkan dia mengatakan bahwa dia pun sebenarnya tidak layak dan tidak pantas sekalipun hanya membuka tali kasut dari Dia yang akan datang (Yoh 1:28). Yohanes menyadari bahwa selain hanya sebagai “suara” saja, dia hanyalah “utusan” Allah saja 

Yohanes pelayanannya setara dengan orang-orang besar seperti Elia, dan bisa menjadi orang terkenal. Dan dia juga dapat memegahkan diri dari identitas dirinya sebagai “Utusan Allah”, namun dia memilih jujur dan rendah hati. Kejujuran dan rendah hati ini yang membuat dia memiliki keyakinan pengharapan, bahwa terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang dalam dunia dan membawa sukacita . 

Dalam KBBI, jujur memiliki arti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus, ikhlas. Ada pula yang mengartikan andal, benar, bersih, bonafide, kredibel, blak-blakan, terang-terangan, terbuka, terus terang. Apa yang kita pilih dalam kehidupan kita? Hidup jujur atau tidak jujur? Kiranya kita dimampukan untuk mulai jujur dengan diri sendiri sebelum kita mampu dengan hati percaya untuk jujur dengan orang lain. Mari, dalam kehidupan berkeluarga, bekerja dan berpelayanan, kita lakukan semuanya sebagai persembahkan yang hidup bagi kemuliaan Tuhan dengan hidup jujur. Maka, kita bersukacita karena hidup jujur. (DNL)