Mengusahakan Hidup Tak Bercacat

Mengusahakan Hidup Tak Bercacat

Artikel

Markus 1 : 1 – 8

Perikop ini menceritakan tentang Yohanes Pembaptis. Ia anak Zakharia, seorang imam di Bait Suci, dan Elizabeth. Kedua orangtuanya berasal dari keturunan Imam Harun, serta “benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat” (Lukas 1:5-6). Yohanes dibesarkan dan dididik dalam keluarga yang tidak hanya mengenal Tuhan tapi juga sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan.

Mengingat bahwa hanya keturunan Harun yang diperkenankan memegang jabatan imam (Bilangan 3:10), maka Yohanes dapat mengikuti jejak ayahnya. Ia berpeluang memiliki pekerjaan, posisi atau jabatan, serta penghasilan yang jelas sebagai imam. Namun nampaknya orangtua Yohanes menceritakan tentang Allah yang menghendaki ia menjadi orang yang “menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Lukas 1:15-17). Yohanes menyadari Allah punya tujuan dalam hidupnya, dan kesadaran ini memengaruhi gaya hidupnya.

Pertama mengenai pilihan tempat kerja. Yohanes memberitakan tentang pertobatan di padang gurun (ay. 4). Padang gurun merupakan daerah kosong, hampir tidak berpenduduk karena gersang akibat minim curah hujan. Mengapa padang gurun? Kemungkinan karena ia dipengaruhi pendapat yang beredar di antara orang Yahudi pada masa itu, bahwa menjelang kedatangan Mesias Israel akan pergi ke padang gurun (Hosea 2:13). Selain itu ia sendiri mengatakan, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun...” (Yohanes 1:23). Lagi pula menyerukan pertobatan di padang gurun punya makna bahwa mereka yang datang kepada Yohanes (ay. 5) adalah orang-orang yang memang berniat untuk bertobat dan membenahi hidupnya sebelum Mesias datang.

Sebenarnya Yohanes bisa hidup lebih “mapan” bila menjadi imam. Namun ia sadar kehendak Allah dalam hidupnya sehingga tidak mencari kenyamanan diri atau terjebak kepentingan. Ia mengarahkan hidup pada kehendak Allah

Kedua mengenai yang dikenakan. Ia “memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit ...” (ay. 6). Bulu unta dapat diolah menjadi semacam kain kasar. Berbeda dengan pakaian berbahan kain yang pada umumnya cenderung lebih halus dan enak dipakai, meski lebih mudah koyak dan cepat usang, jubah bulu bisa jadi lebih tahan lama dan sesuai dengan kondisi padang gurun. Bisa saja Yohanes memakai yang lebih dari yang dikenakan saat itu, namun ia memilih kesederhanaan, sebab ia tahu tujuan hidupnya.

Kesederhanaan tentang yang dikenakan justru menghindarkan seseorang dari pola hidup konsumerisme (budaya konsumtif, berbelanja atau memakai barang secara berlebihan dan tidak sepantasnya), maupun materialisme (pandangan hidup yang memuja kebendaan semata, seolah mutu hidup ditentukan dari benda yang dipunyai).

Ketiga mengenai yang dikonsumsi. Disebutkan “... dan makanannya belalang dan madu hutan”, keduanya berasal dari alam liar tempat Yohanes bekerja. Di mana seseorang bekerja di situ ia beroleh penghidupannya, dan hal ini menunjuk pada kesederhanaan hidup. Kesederhanaan menghindarkan seseorang dari keserakahan, menyalahgunakan kerja demi pendapatan yang tak sepatutnya. Atau dari kerakusan, maupun hedonisme (menjalani hidup sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas). Kesederhanaan tentang yang dikonsumsi juga memengaruhi kesehatan.

Saat ini kita telah memasuki Minggu Advent Kedua, dan kita menanti kedatangan Tuhan dengan Mengusahakan Hidup Tak Bercacat. Bilamana manusia mengarah pada dirinya sendiri hidupnya cacat: kerakusan, keserakahan, keangkaramurkaan. Sebaliknya, senantiasa menyadari kehendak Allah dalam hidup mengarahkan kita pada pilihan untuk memuliakan-Nya, dan itu akan menuntun kita pada kesederhanaan. Salam. (YAD)