RAJA YANG MENJADI MANUSIA

RAJA YANG MENJADI MANUSIA

Artikel

MATIUS 25:31-46 

Diduga ada sejumlah delapan ribu orang relawan membanjiri kota Solo, ketika Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) menikahkan putrinya pada tanggal 8 November 2017 yang lalu. Mereka adalah sekelompok warga masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Datang dengan biaya sendiri untuk mendukung kebahagiaan keluarga presiden. Selain itu, sebagian dari mereka juga menggunakan kesempatan untuk berswafoto bersama presiden. Pak Jokowi benar-benar dekat dan melebur bersama masyarakat. Tidak ada jarak, tidak ada perbedaan dan tidak ada protokoler yang menghambat masyarakat bertegur sapa dengan presidennya. Pak Jokowi begitu menyatu bersama masyarakat. Melebur, hangat dan akrab. Begitulah presiden kita yang juga terkenal dekat dengan masyarakat karena sering blusukan ke daerah-daerah. Inilah desakralisasi kekuasaan, dimana kekuasaan tidak dipandang sebagai sesuatu yang tak terjangkau, bahkan berada jauh dari masyarakat. Kekuasaan yang tidak dibatasi oleh ancaman dan kengerian, melainkan kekuasaan yang merendahkan diri dan membuka diri. Adalah Bapak Presiden Adurrahman Wahid (Gus Dur) yang mulai melakukan desakralisasi lewat guyonan-guyonannya, sehingga menjadi dekat dan akrab dengan masyarakat. Dengan begitu, menjadi jelas bahwa presiden bukanlah figur sakral yang harus ditakuti, bahkan jauh dari masyarakat. Presiden adalah representasi kepercayaan, sekaligus wakil masyarakat itu sendiri. 

Demikianlah gambaran sederhana tentang Presiden turba (turun ke bawah), bahkan blusukan dan langsung menyapa masyarakat. Seperti Raja yang menjadi manusia. Raja Surga yang turun ke bumi untuk menyapa dan disapa oleh manusia. Meninggalkan kemuliaan dan kesakralan Raja, lalu menjadi sama seperti manusia, bahkan menjadi hamba yang paling hina. Itulah sebabnya Tuhan Yesus bersabda: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (ayat 40). Bertemu dan berjumpa dengan Tuhan, berarti memberi makan kepada mereka yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada orang asing, memberi pakaian kepada yang telanjang atau melawat yang sakit dan mengunjungi yang terpenjara (ayat 35-36). Bertemu dan berjumpa dengan Tuhan, berarti menyadari dan menghidupi perjumpaan dengan sesama dan semesta sebagai wujud perjumpaan dengan-Nya. Dialah Raja yang telah menjadi manusia. Kerajaan-Nya datang ke bumi dan kehendak-Nya jadi. 

Minggu ini diperingati sebagai Minggu Kristus Raja, yaitu ke-Raja-an Kristus yang membumi, melebur dan menyatu dengan umat-Nya. Kristus yang membuka Diri berada di sekitar kita dalam pancaran sinar matahari, dalam rimbun keteduhan pepohonan, di riuh rendahnya kicau Prenjak dan Jalak, di gegap gempitanya teriakan anak-anak, di senyuman pasangan kita, serta di tetesan air mata orang tua yang khusuk berdoa bagi kita. Juga di perjalanan 104 tahun gereja Tuhan, GKJ Gondokusuman. Kristus telah benar-benar menyatakan Diri dalam kebersaman, suka duka, rindu dendam dan jatuh bangunnya aktivitas pelayanan. Selamat meneladan Kristus Raja yang menjadi manusia, membuka Diri untuk menyapa dan disapa oleh manusia. Selamat ulang tahun ke-104 GKJ Gondokusuman. Membuka gereja menjadi gereja terbuka, berjumpa dan menyapa Tuhan melalui kehidupan! (SAN)