Mengembangkan Karunia Tuhan

Mengembangkan Karunia Tuhan

Renungan

Mengembangkan Karunia Tuhan

Matius 25:14-30

Pengajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Surga yang telah diberikan kepada para pengikut dengan memakai perumpamaan lima gadis bijaksana {bijaksana; Phronimos: berakal sehat, bertindak dengan hati-hati karena mempertimbangkan dampak yang akan terjadi}, dan lima gadis bodoh {bodoh; Moros: dungu, tolol, tidak menggunakan akal budinya, jawa tanpa pikir}, (Matius 25:1-13). Terdapat benang merah yang berkelanjutan ketika ajaran tentang Kerajaan Surga kembali diberikan dengan memakai perumpamaan talenta. Setidaknya sikap dan tindakan bijaksana serta bodoh itu terwakili oleh tindakan para hamba dalam mengelola talenta. Dua hamba mengembangkan talenta dengan hasil berlipat ganda, sedangkan hamba yang ketiga tidak mengembangkannya namun justru mengubur talenta di dalam tanah.

Talenta adalah jenis mata uang dengan nilai tertinggi, dibawah talenta ada mata uang mina, kemudian dinar. Adapun perbandingan nilai satu talenta sama dengan 6000-10.000 dinar, satu dinar adalah upah untuk satu hari kerja. Dengan memperhatikan perbandingan nilai yang ada, mempercakapkan talenta pada jaman Tuhan Yesus tidak semata-mata membicarakan tentang uang, namun bisa berarti membicarakan tentang segala sesuatu yang memiliki nilai yang tinggi dalam hidup. Apa pun yang memiliki nilai tinggi dalam hidup harus dikembangkan dengan karya dan dalam kesetiaan seperti seorang hamba yang bisa diandalkan dalam bekeja untuk melayani dan menyenangkan hati tuannya. “Memendam uang dalam tanah ” merupakan pepatah yang dimiliki orang Yahudi, yang artinya orang yang tidak bisa diandalkan. Prilaku itu terwakili dan tercermin dalam tindakan yang diperbuat oleh hamba ketiga, yang tidak mengembangkan talenta tuannya sehingga tidak bisa memberikan pertanggung jawaban ketika sang tuan mengadakan perhitungan. Sebaliknya hamba itu justru menilai tuannya sebagai tuan yang kejam.

Penilaian kejam dari hamba ketiga terhadap sang tuan, menunjukkan bila si hamba ini tidak memiliki pengenalan yang benar tentang tuannya. Sebab sejatinya sang tuan akan menempatkan hamba tidak sebagai hamba lagi, tetapi menjadi bagian dari keluarga dengan ikut menikmati kebahagiaan milik tuannya, ketika hamba itu bisa menunjukkan yang dipercayakan kepadanya dikembangkan (20-23).

Talenta bukan hanya karunia-karunia rohani, talenta anugerah Tuhan banyak ragam dan jumlahnya. Kepada manusia Tuhan mempercayakan talenta dalam wujud dan jumlah yang berbeda-beda. Manusia perlu terus mengasah kepekaan diri untuk menilai apapun yang dimiliki sebagai talenta yang dipercayakan Tuhan, baik dalam wujud; pekerjaan, waktu, kesehatan, jabatan, profesi, harta benda, kesempatan studi, rumah tangga, keturunan, sahabat, hidup bergereja, hidup bermasyarakat, sebagai yang bernilai tinggi dan berharga. Yang harus dikembangkan untuk kemuliaan Tuhan, melalui karya dengan setia seperti seorang hamba yang melayani tuannya. Lihatlah TALENTA-mu karunia Tuhan dan kembangkanlah. (SWD)