Menghidupi Kasih

Menghidupi Kasih

Renungan

1 Tesalonika 2 : 1 – 8 

 

Bisnis tidak melulu soal uang, efisiensi dan efektivitas, tapi juga soal kepedulian sejati. Cara pandang inilah yang nampaknya dimiliki Jean-Pascal Tricore, Ketua dan Pimpinan Umum Schneider Electric, perusahaan internasional yang bermarkas di Perancis. Di dalam perusahaan ia mengubah budaya kompetisi menjadi kolaborasi. Mewajibkan karyawan mengambil cuti. Merombak dominasi orang-orang Perancis dalam manajemen. Di luar perusahaan ia mencari cara agar perusahaan berkontribusi, terutama di Negara-negara berkembang. Dia menjiwai kolaborasi dengan kasih. Hasilnya, reputasi perusahaan melejit dan berada di peringkat ke-9 perusahaan global dunia.

Nampaknya sudah tidak relevan lagi dan bukan zamannya bila manusia mementingkan diri sendiri. Keberhasilan maupun kebertahanan dalam menghadapi kehidupan, atau mencapai yang diharapkan (visi), adalah ketika kita menghidupi kasih.

Injil yang diberitakan Paulus adalah kabar kesukaan tentang kepedulian Allah terhadap manusia. Kepedulian Allah itulah yang diberitakan Paulus dengan cara melakukan hal serupa, yaitu peduli. Kepedulian yang dinyatakan dengan memberi diri, dan bukan menuntut dilayani atau dihargai (ay. 6). Berdasarkan niat yang tulus, dan bukan akal bulus (ay. 3, 5). Disertai usaha yang tekun, setia, serta tak gampang putus asa meski susah jalannya (ay. 2). Bertujuan bagi kebaikan sesama, bukan semata-mata kepentingan individu saja. Inilah artinya menghidupi kasih – mengusahakan dan memelihara agar kasih menjadi nyata sebab dampaknya luar biasa.

Dalam suratnya Paulus memakai analogi seorang ibu yang mengasuh dan merawati anaknya (ay. 7). Seorang ibu tidak memikirkan dirinya sendiri, tapi anaknya. Maka tak heran meski berat beban mengandung sembilan bulan dijalani dengan senyuman. Meski sakit saat melahirkan dijalani dengan keyakinan dan harapan akan lahirnya kehidupan, dan setelah melewati perjuangan hadir kebahagiaan. Meski tak mudah mencari nafkah dijalani tanpa gampang menyerah apalagi berkeluh kesah, meski wajah kadang terlihat lelah. Menghidupi kasih (terhadap anaknya) membuat seorang ibu berhasil dan bertahan dalam kehidupan.

Minggu ini merupakan minggu terakhir di bulan Oktober, yang artinya kita mengakhiri masa penghayatan bulan keluarga 2017 dalam hidup bergereja. Biarlah kita tetap menjiwai hidup keluarga dengan kasih. Menyatakan kepedulian Allah dalam hidup bersama. Selamat menghidupi kasih. Salam. (YAD)