Keluarga Yang Berbuah Baik

Keluarga Yang Berbuah Baik

Renungan

Yesaya 5:1-7

Ketika musim tanam tiba, para petani akan mempersiapkan bibit yang baik yang akan ditanamnya baik itu, padi, jagung, atau kacang-kacangan sesuai dengan musimnya. Bersamaan dengan menyiapkan bibit biasanya lahan yang akan ditanami juga mulai dipersiapkan. Baik dengan cara dicangkul, dibajak dan lain-lain, sesuai dengan jenis tanaman yang akan ditanam. Setelah tahapan persiapan benih, pengolahan tanah, penanaman benih selesai. Tahapan berikutnya adalah perawatan tanaman menjadi bagian yang penting yang dikerjakan oleh para petani. Dalam semua proses yang dikerjakan para petani terhadap tanamannya, selalu terkandung harapan ketika tiba waktunya akan memetik hasil panen yang baik dan berlimpah. Maka jika saat panen yang didapat sebaliknya rasa kecewa akan menyesakan dada.

Nyanyian tentang kebun anggur yang diungkapkan oleh Nabi Yesaya merupakan peringatan untuk Israel sebagai umat pilihan. Bahwa mereka dipilih menjadi umat milik Tuhan mengandung maksud supaya Israel memiliki kualitas prilaku hidup yang lebih baik, sehingga menjadi teladan bagi bangsa lain. Keterpilihan dengan tugas yang demikian itu, digambarkan seperti kebun anggur yang dibuat dari pokok anggur pilihan, ditanandilahanyangsubur,sertadirawatdengansangatbaik,agarbisamenghasilkan buahyang(manis)baik, (ayat 2). Namun sayang dalam kenyataannya Israel gagal menjalankan tugas yang terkandung dalam panggilan itu. Kegagalan Israel digambarkan dengan kebun anggur yang diharapkan mengeluarkan buah baik ternyata hanya berbuah asam (ayat 4).

Prihal makna, harapan terhadap Isreal menjadi kebun anggur yang mengeluarkan buah yang baik, namun hanya berbuah asam, dijelaskan di ayat 7. Israel sebagai umat pilihan Tuhan, telah Tuhan jaga dan rawat sedemikian rupa, dari itu semua diharapkan Israel dalam kehidupannya melakukan keadilan tapi yang diperbuat kelaliman {kata lalim; dalam Alkitab terbitan tahun 1968 diterjemahkan 'busuk belaka', dalam bahasa Jawa terbitan tahun 1956 diterjemahkan 'mung ana wutahing getih'}. Dalam kelaliman terjadi penindasan, penganiayaan, pemerasan, bahkan meniadakan pihak lain, padahal Tuhan menghendaki prilaku adil yaitu peduli, berempati, menolong, dan berani membela. Berikutnya Tuhan menghendaki kebenaran namun yang dilakukan keonaran {kata kebenaran; dalam Kitab Suci bahasa Jawa tahun 1956 diterjemahkan dengan kata 'jujur'}. Pada bagian ini, umat pilihan diberi tugas untuk hidup lurus, hidup benar, tetapi ketidak benaran itu yang dilakukan sehingga mengakibatkan keonaran {tahun 1968; 'gaduh belaka'}. Umat pilihan dengan hidup benarnya mestinya bisa membawa ketenteraman keteduhan dalam hidup, namun yang diperbuat justru menjadi 'biang kerok' sumber masalah, penyebab konflik.

Keterpilihan itu tidak hanya berlaku untuk Israel, umat Kristen {para pengikut Kristus yang hidup di jaman ini, juga umat yang telah dipilih menjadi milikNya}. Dengan demikian menghadirkan keadilan dan kebenaran menjadi tugasnya, yang harus terwujud dalam hidup keseharian di manapun berada, termasuk dalam lingkup hidup keluarga. Janganlah menjadi penindas, pemeras, penganiaya, memaksakan kehendak pribadi, bagi yang lain. Janganlah menjadi biang masalah dalam hidup bersama namun hadirkanlah damai sejahtera dengan berlaku benar dan adil. (SWD)