KESEMPURNAAN KASIH

KESEMPURNAAN KASIH

Renungan

Roma 12:9-21 

"Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Matius 5:48). Banyak orang meyakini bahwa tiada yang sempurna selain Tuhan. Manusia adalah makhluk yang lemah dan penuh dosa. Kutipan Injil Matius 5:48 tersebut, mengingatkan kepada kita bahwa manusiapun dituntut kesempurnaannya. Dituntut juga kesetiaan dan kesuciannya. Menjaga laku dan sikap hidup takut akan Allah senantiasa. Nah, sekarang marilah kita belajar dari surat Roma tentang kesempurnaan kasih.

Surat Roma adalah surat Paulus yang paling panjang, paling teologis, dan paling berpengaruh. Mungkin karena alasan-alasan itu, maka surat Roma ditaruh di depan, mendahului 13 suratnya yang lain. Paulus menulis surat ini dalam rangka pelayanan kepada dunia bukan Yahudi. Artinya, Paulus berbicara kepada orang-orang dari berbagai latar belakang budaya. Tentu saja model pelayanan seperti ini tdk mudah bagi Paulus. Misalnya dalam hal logat bahasa. Sama-sama dari Jawa, logatnya bisa saja berbeda (mis. logat Jatim-Jateng). Atau, sama-sama Jateng, tp logat Banyumasan dengan Jogja juga berbeda. Tetapi justru karena perbedaan itulah ajarannya dibuat sederhana dan blak-blakan, sehingga lebih bisa diterima oleh orang-orang dari budaya lain. Misalnya, pada ayat pembuka (ayat 9) bacaan kita, dinyatakan: Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Bukankah ayat pembuka ini langsung menyasar kepada setiap orang supaya mereka tidak berlaku munafik. Selanjutnya, mereka bisa menjadi pelopor kasih yang rajin dan mendahului dalam berbuat kasih. Tidak perlu menunggu orang lain (ayat 10-11).

Hal lain yang tak kalah penting diperhatikan, adalah: Bersukacita senantiasa di dalam pengharapan, sabar dalam kesesakan, dan bertekun selalu dalam doa! Dan dalam segala hal yang kita jumpai: Bantulah kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! (ayat 12-13). Dulu memang banyak pengembara yang membutuhkan tumpangan, namun sekarang mungkin sudah jarang ada. Oleh karenanya, penekanan pada ayat ini adalah tentang kemauan untuk berbagi dengan yang lain, termasuk berbagi berkat (ayat 14). Ada juga ajaran tentang empati: Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! (ayat 15). Itu berarti mengelola perasaan, sebagaimana orang lain merasakan/menanggungnya. Juga teladan tentang kerendahan hati, yaitu melatih diri agar sehati sepikir dalam menjalani hidup bersama dan menjaga kerukunan (ayat 16-19).

Lalu terakhir, kembali lagi kepada sikap peduli dan mau berbagi: Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (ayat 20-21). Demikianlah rincian laku hidup ajaran Paulus untuk melatih diri menuju kesempurnaan kasih. Jangan terlalu sering bersembunyi di balik kelemahan sebagai manusia, tetapi usahakanlah kesempurnaan senantiasa, sebab Bapa di sorga sempurna adanya. (SAN)