Dinamika Iman di Tengah Badai

Dinamika Iman di Tengah Badai

Renungan

1 Raja-raja 19 : 9 - 18 

Tuhan memanggil Elia untuk pergi dan bertemu Elia (1 Raja-raja 18:1). Elia merespon dan melakukan panggilan Tuhan ini dengan sangat baik. Obaja menjadi perantara bertemunya Elia dengan Ahab (1 Raja-raja 18:16). Elia juga berani bertemu dan menegur Ahab. Bahkan Elia meminta dikumpulkannya nabi-nabi Baal dan nabi-nabi Asyera ke gunung Karmel (1 Raja-raja 18:18-19). Elia berkata dengan lantang menegur seluruh rakyat Israel bahwa mereka telah berlaku timpang dan bercabang hati (1 Raja-raja 18:20). Elia dengan tegas menyatakan siapa jati dirinya, “Hanya aku seorang diri yang tinggal sebagai nabi Tuhan, ...” (1 Raja-raja 18:22). Elia mengetahui dengan jelas bagaimana perannya,bahwa Elia hanya perantara Tuhan, supaya Tuhan menyatakan kehendak-Nya dan rakyat itu bertobat kembali (1 Raja-raja 18:36-37). Kemudian peristiwa istimewa terjadi, turunlah api Tuhan menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya, maka semua orang sujud dan mengakui Tuhan Allah. Elia pun memerintahkan untuk menangkap nabi-nabi Baal dan membunuh mereka (1 Raja-raja 18:38-40). Elia mengetahui datangnya hujan lebat serta kuasa Tuhan berlaku atas Elia dengan diikat pinggangnya dan berlari mendahului Ahab menuju Yizreel (1 Raja-raja 18:45-46).

Lalu, apa yang terjadi dengan Elia (dipasal 19)? Setelah Izebel menyuruh suruhan untuk mengatakan kepada Elia bahwa besok Elia akan dibunuh. Elia takut, pergi menyelamatkan nyawanya. Bahkan Ia putus asa, meminta Tuhan mengambil nyawanya, merasa dirinya tidak lebih baik dari nenek moyangnya. Siapakah Izebel hingga membuat Elia takut? Izebel adalah putri dari Etbaal, raja imam Tirus dan Sidon. Dia menikah dengan Ahab, guna menguatkan persekutuan Tirus dengan Israel. Wataknya keras dan bersifat menguasai, menuruti kehendak sendiri dan bersifat memaksa. Dia penyembah fanatik dewa Melkart, yaitu Baal orang Tirus. Lalu mengapa Elia begitu takut dibunuh? Namun Tuhan tetap memelihara Elia selama perjalanan dari padang gurun sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Sesampainya di gunung Horeb, bercakap-cakaplah Tuhan dan Elia. Pertanyaan Tuhan yang sangat dalam bagi Elia, “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?” Pertanyaan ini disampaikan dua kali, di dalam gua dan saat berdiri di atas gunung. Elia mengalami peristiwa istimewa keberadaan Tuhan di tempat itu. Dan Elia menjawab bahwa ia bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan. Tuhan pun meminta dia kembali ke jalannya dan melanjutkan tugasnya lagi.

Apa yang terjadi dengan Elia, sebenarnya sering kita mengalami juga. Kita pada awalnya begitu yakin dengan panggilan Tuhan dengan apapun profesi kita, kita sangat menyadari identitas kita. Namun ketika menghadapi tantangan tentang ke-aku-an diri kita, bahkan nyawa yang menjadi taruhannya, membuat kita gentar dan putus asa. Kita lupa bahwa kita ini perantara Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama. Marilah bekerja segiat-giatnya (belajar, bekerja, berpelayanan dan bermasyarakat) bagi Tuhan. (DNL)