Rahmat Bagi Semua

Rahmat Bagi Semua

Renungan

Matius 14 : 13 - 21 

Minggu ini kita memasuki bulan kemerdekaan. Di beberapa titik kota Jogja bendera merah putih dan umbul-umbul sudah terpasang. Selain mengadakan kerja bakti yang melibatkan semua warga masyarakat, persiapan lomba agustusan juga dilakukan. Kita menyambut perayaan proklamasi kemerdekaan.

Makna kemerdekaan dapat ditinjau dari beberapa aspek. Pertama aspek historis, bahwa proklamasi kemerdekaan merupakan titik akhir sejarah penjajahan sekaligus titik awal Indonesia sebagai negara merdeka. Kedua aspek kultural, yaitu momen membangun peradaban baru menjadi bangsa yang mengakui persamaan harkat, derajat, dan martabat setiap warganya. Ketiga aspek spiritual, dimana kemerdekaan merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa bagi semua rakyat Indonesia.

Berdasar makna tersebut maka bentuk dari kita merayakan kemerdekaan melalui empati sosial. Lawan kata empati ialah apati, ketiadaan perasaan atau miskin rasa terhadap orang lain. Apati (kata benda dari apatis) tumbuh secara bertahap dari sikap cuek dan masa bodoh, menjadi hilang rasa peduli, keterasingan, serakah, represi (menekan, kasar, menindas), dominasi dan eksploitasi. Lambat laun mengarah pada perbuatan kejam dan destruktif. Perikop hari ini menunjukkan tentang empati Yesus yang membuat rahmat Allah dialami semua orang.

Disebutkan bahwa Yesus menyingkir dan mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Selain karena peristiwa Yohanes Pembaptis, momen “tempat yang sunyi” merupakan kesempatan bagi Yesus dan para murid beristirahat sebentar setelah bekerja keras dalam pelayanan. Namun ketika melihat realita – yaitu orang banyak yang datang, tergerak hati-Nya oleh belas kasihan karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Dari mata turun ke hati, tumbuh empati dan melahirkan aksi: “menyembuhkan mereka yang sakit.” Yesus mengesampingkan kepentingan individual dan menyatakan kepedulian sosial.

Ketika Yesus sedang mengajar para murid mengatakan bahwa hari telah malam. Mereka menyadari jika orang banyak itu perlu makan, dan tidak mungkin mereka memenuhi kebutuhan orang sebanyak itu. Sebab itu mereka meminta Yesus menyuruh orang banyak untuk pergi mencari makan sendiri. Mendengar realita itu Yesus tergerak dan mengajak para murid bergerak. Dari telinga turun ke hati, tumbuh empati dan aksi.

Mungkin awalnya ada keraguan, kekuatiran, ketakutan di hati para murid – sebab yang ada pada mereka ialah 5 roti dan 2 ikan. Mereka sendiri juga punya kebutuhan (kepentingan). Namun seberapa yang ada pada mereka merupakan potensi rahmat Tuhan dinyatakan. Yesus mengajar mereka mengesampingkan sejenak kepentingan individual – menyerahkan 5 roti dan 2 ikan, demi kepedulian sosial. Hasilnya: “mereka semuanya makan sampai kenyang ... yang sisa, dua belas bakul.” Mereka semua mengalami rahmat. 

Tiap-tiap orang memiliki kemerdekaannya – termasuk merdeka dalam memenuhi kebutuhan, maupun mempertahankan kepemilikan “5 roti dan 2 ikan.” Kemerdekaan dalam Yesus ialah kemerdekaan empati bukan apati. Kemerdekaan apati menghasilkan kebebasan yang tak bertanggung jawab, serta dominasi individualis. Memunculkan beragam fenomena: perundungan (bully), kekerasan dalam rumah tangga, kasus korupsi, peredaran narkoba, penipuan secara online, kriminalitas, hingga aksi terorisme. Maraknya kasus yang demikian tidak semata karena pelakunya apati – miskin rasa, tapi juga ketika banyak orang masa bodoh terhadap realita sekitarnya, atau belum merdeka dari keraguan, kekuatiran, ketakutan, keegoisan untuk berbagi rasa.

Rahmat atau berkah dari Allah dinyatakan bagi semua orang melalui empati atau “tergeraklah hati”. Di dalam Yesus kita mengasah kepekaan rasa, terlebih dalam penghayatan akan pengorbanan Yesus melalui perjamuan kudus dalam kebaktian minggu 6 Agustus. Di sanalah kita mengenal bentuk empati tertinggi. Pada-Nya kita belajar bahwa dengan melihat dan mendengar realita hati kita tergerak untuk beraksi tentang rahmat bagi semua. Salam. (YAD)