Rendah Hati di Hadapan Tuhan

Rendah Hati di Hadapan Tuhan

Renungan

1 Raja-raja 3:5-12

 

Salomo telah diurapi menjadi raja. Hal itu menunjukkan bahwa dialah yang dipilih, bukan saudara-saudaranya. Dia bukan anak tertua Daud. Dia juga bukan anak dari istri pertama. Dia anak dari seorang perempuan yang dulunya adalah teman berzinah Daud lalu akhirnya direbut dari suaminya, Uria. Namun justru dialah yang dipilih oleh Daud menjadi raja menggantikannya. Allah pun merestui pilihan itu. Tentu Allah memiliki pandangan tersendiri mengenai kualitas Salomo. Bacaan kita kali ini menunjukkan kualitas itu.

Ditawari oleh Tuhan untuk meminta sesuatu, sebenarnya sebuah kesempatan emas bagi Salomo. Secara manusiawi, dia bisa meminta umur panjang, kekayaan, dan kejayaan sebagai raja. Tuhan pun akan memberikannya karena Dia telah memberikan kebebasan bagi Salomo untuk meminta. Namun Salomo sedemikian rendah hati. Dia sadar akan keberadaannya. Dia menjadi raja bukan karena dia telah menunjukkan kualitasnya. Dia menjadi raja bukan karena telah mengalahkan saudara-saudaranya. Dia menjadi raja juga bukan karena pemilihan oleh rakyat. Dia menjadi raja semata-mata karena Tuhan sendiri yang mendudukkannya sebagai raja untuk memenuhi janji-Nya kepada Daud mengenai keturunan dan kerajaannya (ayat 6). Oleh karena itu, Salomo meminta hati yang faham menimbang perkara. Salomo sadar bahwa memimpin bangsa besar yang telah dipersatukan oleh ayahnya tidaklah mudah. Dia membutuhkan hikmat.

Sebagai orang percaya, kita membutuhkan kerendahan hati yang sama. Kita perlu selalu ingat bahwa dalam menjalani kehidupan, terlebih berelasi dengan orang lain, kita memerlukan hati yang faham menimbang perkara. Tanpa hal itu, kita akan menjadi orang yang tinggi hati dan bersikap serampangan. Misalnya, orangtua bisa mengasuh anak tanpa memperhatikan potensi anak-anaknya. Orangtua bisa memberikan contoh yang tidak baik dengan melakukan ketidakadilan. Demikian pula orangtua bisa membuat keputusan yang salah. Itulah sebabnya orangtua, dan semua orang percaya, wajib memiliki kerendahan hati untuk meminta hati yang faham menimbang perkara. Kita memerlukan kebijaksanaan, hikmat yang dari Tuhan untuk bisa berelasi dengan penuh keadilan. (thie)

 

(Catatan: Renungan ini merupakan tulisan Pdt. Kristi dalam Khotbah Jangkep GKJ 2017. Ditulis ulang di sini dengan beberapa perubahan.)