Dipanggil Untuk Apa?

Dipanggil Untuk Apa?

Renungan

Keluaran 19:2-8a

Berkat Tuhan, mari hitunglah
Kau niscaya kagum oleh kasih-Nya

 

Petikan nyanyian dari Kidung Jemaat 439 itu mengajak orang percaya untuk tetap yakin di tengah perjuangan. Secara umum, manusia mudah merasa celaka kalau berada dalam perjuangan atau pergumulan, bahkan merasa bahwa Tuhan sedang tidak memberkati. Nyanyian ini mengingatkan supaya di tengah perjuangan, mata iman kita tidak tertutup. Kita diajak untuk melihat berkat Tuhan sepanjang kehidupan kita, sehingga tetap kuat karena tahu bahwa Tuhan sangat lebih berkuasa dibandingkan permasalahan yang sedang dihadapi.

Ayat bacaan kita juga bisa dilihat seperti sebuah perbandingan. Bedanya, yang dibandingkan adalah berkat Tuhan dengan tindakan umat. Ada enam hal yang disebut sebagai tindakan Tuhan. Enam hal itu adalah melepaskan orang Israel dari orang Mesir, mendukung mereka di atas sayap rajawali, membawa mereka kepada Tuhan, menjadikan mereka harta kesayangan Tuhan, menjadikan mereka kerajaan imam, dan menjadikan mereka bangsa yang kudus. Di tengah-tengah, diselipkan hal yang Tuhan harapkan dapat dilakukan oleh umat, yaitu mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian Tuhan. Bisa dikatakan, formasinya 3-2-3. Tiga tindakan Tuhan, direspons dengan dua tindakan manusia, ditambahi lagi dengan tiga tindakan Tuhan. Kalau mau pakai hitung-hitungan, tentu berkat Tuhan tidak ada bandingnya.

Justru sekarang perhatian kita harus kita fokuskan juga pada dua hal yang Tuhan harapkan. Umat, yang sudah menerima berkat, diminta untuk merespons berkat Tuhan itu. Umat diberi berkat bukan hanya supaya bersenang-senang apalagi menjadi tinggi hati. Sebaliknya, ketika berkat dicurahkan, itu berarti sebuah panggilan untuk umat. Dipanggil untuk apa?

Mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian Tuhan. Sebenarnya GKJ Gondokusuman sudah merangkum kedua hal itu dalam visi yang dicanangkan untuk 2015-2019: “Menjadi gereja yang melanjutkan karya penyelamatan Allah”. Itu artinya, gereja – ya sama dengan kita semua – diajak untuk mewujudnyatakan berkat yang telah diterima sehingga orang lain juga merasakan berkat yang sama.

Hari ini kita memasuki masa biasa dalam kalender gerejawi. Artinya, tidak ada hari raya, hingga nanti akhir November. Namun tentu bukan berarti Tuhan tidak berkarya. Justru pada masa biasa ini kita diajak untuk mewujudnyatakan berkat Tuhan senantiasa, sehingga hidup kita – dan hidup sesama yang terberkati melalui kita – selalu segar. Seperti warna hijau yang menjadi warna liturgi masa biasa, segar, sesegar dedaunan yang meneduhi dan menghasilkan udara segar bagi kita. Jadi, mari menjadi segar, tetap bahagia, membawa kebahagiaan berkat Tuhan bagi sesama, karena untuk itulah kita dipanggil. (thie)