GENERASI X, DIGITAL NATIVE DAN PERUBAHAN PERADABAN

GENERASI X, DIGITAL NATIVE DAN PERUBAHAN PERADABAN

Artikel

Generasi X, menurut William Strauss dan Neil Howe yang merilis buku kedua mereka, 13th Gen, menjelaskan bahwa generasi X adalah generasi yang lahir  antara tahun 1961 sampai tahun 1981. Lantas, pakah teori generasi itu? Menurut sosiolog asal Hungaria, Karl Mannheim, adalah sebuah kelompok individu dengan rentang usia yang sama dan bersama-sama pula mengalami peristiwa bersejarah dalam waktu yang bersamaan.

Saat ini teori generasi ada beberapa pendapat. Namun secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi: Generasi Mature (generasi yang lahir antara tahun 1900-1945); Generasi Baby Boomers (1946-1964); Generasi X yaitu mereka yang lahir antara tahun 1965-1980; Generasi Y (1981-1994); Generasi Z (1995-2010). Ada juga yang mengatakan generasi X lahir antara tahun 1965-1976 dan generasi Z lahir antara tahun 1995-2014.

Generasi X dengan ciri-ciri anti kemapanan, doyan belanja, ngedugem berat. Pada rentang tahun kelahiran mereka ini muncul kehidupan seperti hippies, ganja, mariyuana, nudis sehingga sering disebut miring sebagai generasi apatis, sinis, gedombrongan. Filosofi hidup mereka "Kerja Untuk Hidup" bukan Hidup untuk bekerja. Jika bepergian selalu mencari sensasi alias tantangan. Ciri berpakaiannya leher dijerat syal, sepatu keds dan buku saku. Perangai mereka tidak sabaran. Mereka belajar dengan duduk manis di meja belajar, suasananya sunyi dan tenang paling banter sambil mendengarkan radio atau musik dari tape recorder, walkman atau CD Audio. Generasi X masih mau membeli koran dan membacanya, masih mau menunggu acara TV sebelum acara favoritnya ditayangkan.

Sementara itu generasi Y dan Z mereka sebagian besar merupakan generasi Digital Native. Generasi Digital Native ini adalah generasi yang sejak kecil, usia dibawah lima tahun sudah mengenal gadget, komputer, smartphone sebagai bagian dari kehidupan mereka. Mereka belajar bersama Sesame Street, Dora, Spong Bob dan sebagainya. Generasi Y dan Z tidak mau membaca koran dan tidak suka menuggu acara televisi tayangan demi tayangan kecuali melihat siaran langsung sepak bola dan siaran langsung berita "breaking news". Cara hidup generasi Y dan Z berbeda dengan generasi X.

Perubahan Jaman

Generasi X seperti saya ini, dan generasi sebelumnya, ketika menjalani dekade ini merupakan generasi Digital Immigrant. Generasi ini hidup saat terjadi perubahan peradaban dari berkirim surat dan telegram menjadi berkirim e-mail (surat elektronik melalui internet), sms (short message service) dan chating (mengobrol di internet menggunakan apliasi tertentu). Koran, tabloid dan majalah beralih ke web, blog dan portal. Telepon rumah beralih ke telepon selular. Mendengarkan musik dari kaset (tape recorder) beralih ke compact disk, mp3 dan sekarang sudah ada Spotify, JOOX dan Sound Cloud. Melihat video dulu menggunakan videocassette recorder (VCR) dan dvd player, kini sudah melihat video dengan file data (mpeg, mp4, avi dll) ada juga video blog atau video log yaitu Youtube, Vidio dan Vimeo (Vimeo sampai saat ini masih diblokir kominfo).

Perkembangan jaman ini juga membawa dampak pada perekonomian, perniagaan dan jasa. Demo-demo yang menentang keberadaan taxi online seperti Uber, Grab, GoCar dan Go-Jek adalah contoh nyata ketidaksiapan generasi Digital Immigrant dalam menghadapi perubahan peradaban. Bahkan ada salah satu teman saya yang dengan gembira menceritakan "Di sebuah kota di pulau Jawa, pemerintah daerahnya melarang keberadaan taxi online dan kota itu tidak ada keributan." Apa yang menjadi polemik saat ini akan terus berkembang karena kemajuan teknologi tidak akan bisa dibendung.

Besok, lusa akan muncul aplikasi online lewat perangkat android, windows phone atau iPhone yang lebih canggih lagi. Pengiriman paket dengan menggunakan drone mulai diuji-cobakan di beberapa negara maju. Rumah makan beberapa tahun lagi akan lebih banyak menggunakan layanan delivery. Di Amerika Serikat sudah ada surat kabar cetak yang menutup usahanya dan beralih ke media online atau internet. Selain lebih gogreen, biaya online lebih murah dari biaya produksi cetak, juga karena kayu sebagai bahan baku kertas semakin langka.

Kedepan aplikasi online asuransi akan membunuh para agen asuransi. Ya, karena aplikasi online menawarkan lebih banyak pilihan premi, pilihan jenis asuransi dan pelanggan bisa langsung melakukan klaimnya. Begitu juga dengan perbankan, kedepan, para customer service dan teller akan digantikan oleh aplikasi online dan produk perbankan yang lebih banyak macam dan jenisnya. Anak-anak generasi Alpha yang lahir setelah tahun 2015 bisa jadi 17 tahun lagi akan memilih kuliah online, memilih matakuliah yang disukai, sesuai minatnya dan tidak lagi harus datang ke kampus mendengarkan ceramah dari dosennya. Semua bisa diunduh. Bahan kuliah nantinya berupa foto, rekaman video dan animasi. Semua disediakan secara online.

Menyesuaikan Jaman

Kalau dulu orang bisa beradaptasi dari berjalan kaki, naik kuda, naik sepeda lalu naik sepeda motor, maka diharapkan besok manusia juga akan menyesuaikan perkembangan jaman dan perubahan peradaban yang lebih canggih lagi. Siapa yang tidak mau berubah pasti akan ketinggalan jaman dan punah. Ini adalah revolusi jaman.

Lihatlah Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Ahok, Risma dan Jokowi. Mereka berkomunikasi dengan generasi muda lewat media sosial, memanfaatkan Instagram, Youtube, Facebook dan Twitter. Generasi Digital Native tidak suka bertele-tele. Menurut Christovita Wiloto yang menulis artikel: Generasi Y & Z dan Matinya “Middle Man”, pemimpin sekarang langsung berkomunikasi dengan rakyatnya. Tidak ada lagi yang namanya perantara. Kalau jaman dulu ada orang yang kaya raya karena bisa menjadi penghubung  ke selebriti dan orang-orang yang punya jabatan sampai lingkaran istana, maka sekarang tidak perlu lagi. Lewat media sosial mereka bisa berhubungan langsung menyampaikan keluhan dan ide-idenya.

Generasi yang akan datang akan malas pergi ke kantor karena susahnya cari tempat parkir, lebih suka bekerja online sambil minum kopi di kafe. Saya saja sekarang menikmati layanan Go-Food, layanan dari service Go-Jek yaitu layanan pesan antar makanan tanpa harus keluar rumah. Generasi Y, Z dan Alpha lebih malas dari generasi X dan Baby Boomers, tapi mereka akan selalu mencari cara untuk mempermudah hidupnya. Multitasking, langsung dan tidak suka berbasa-basi.

Jogja, April 2017

Andreano SB; Sambil mendengarkan St. Louis Blues karya W.C Handy yang dibawakan oleh Louis Amstrong dengan aplikasi Spotify.