Tuhan Adalah Gembala dan Pemelihara Hidup

Tuhan Adalah Gembala dan Pemelihara Hidup

Renungan

Yohanes 10:1-10

Yesus senang sekali berbicara dengan menggunakan perumpamaan. Melalui perumpamaan, Yesus mengajar orang banyak menggunakan hal-hal yang akrab bagi keseharian mereka. Gembala domba adalah pekerjaan yang sangat mereka kenal. Peran gembala juga sangat mereka ketahui. Yesus pun menggambarkan diri dan karya-Nya melalui dunia kegembalaan itu.
Gembala yang disebutkan oleh Yesus memiliki empat kualitas. Pertama, ia masuk melalui pintu. Jadi gembala tidak masuk dengan sembunyi-sembunyi, merusak kandang, atau mengambil jalan pintas. Gembala yang masuk ke kandang melalui jalan yang benar inilah gembala yang benar. Bukan pencuri, apalagi pembunuh dan pembinasa. Dia menunjukkan jati dirinya dengan terbuka, siap dikenali oleh penjaga pintu dan domba-domba. Kedua, ia memanggil domba-dombanya menurut namanya. Itu berarti gembala mengenal domba-dombanya. Dia akan tahu jika ada satu yang tidak ada di tempat, juga tahu jika ada anggota baru karena baru saja dilahirkan. Ketiga, ia menuntun domba-dombanya keluar dari kandang. Padang rumput dan air yang jernih ada di luar kandang. Domba-domba harus dibawa keluar. Sekalipun di luar kandang terbentang bahaya dan tantangan karena kerasnya dunia, domba-domba harus keluar untuk bisa mendapatkan sumber kehidupannya. Gembala yang baik tidak mengungkung domba di dalam kandangnya, melainkan membawa mereka menghadapi dunia dengan segala bahayanya. Keempat, gembala berjalan di depan domba-dombanya. Sekalipun dibawa masuk ke dunia yang penuh bahaya, seorang gembala yang baik akan berjalan di depan. Ia memimpin, menunjukkan jalan, dan menghadapi bahaya bersama domba-dombanya. Dia tidak membiarkan domba-dombanya melangkah sendirian.
Merespons kualitas gembala yang seperti itu, sebagai domba juga harus berkualitas. Ada tiga kualitas yang harus dimiliki oleh domba. Pertama, domba harus mendengarkan suara gembala. Karena gembala yang masuk ke kandang adalah baik, tentu akan menunjukkan jalan yang baik dan benar pula. Maka supaya mendapatkan yang baik, domba harus mendengarkan suara gembala. Jangan sampai tidak konsentrasi atau malah mengalihkan diri mendengarkan gembala yang lain. Kedua, domba harus mengenal suara gembala. Untuk bisa mendengarkan dengan baik, domba harus bisa membedakan suara gembalanya dengan suara yang lain. Jangan sampai karena tidak peduli, seekor domba merasa diri telah mendengarkan, tetapi ternyata yang didengarkan adalah orang lain. Tentu bisa salah jalan, nanti. Ketiga, domba harus mengikut gembala. Gembala yang baik akan menuntun domba keluar dari kandang menuju pada sumber kehidupan. Supaya bisa hidup, domba harus mengikuti gembala. Jangan menjadi malas dan ingin gembala yang membawa semua kebutuhan domba ke dalam kandang, melainkan menjadi rajin dan pemberani mengikuti gembala keluar kandang walaupun di luar ada banyak bahaya.
Kalau domba telah berkualitas sedemikian rupa, maka mengikut gembala yang baik sama halnya dengan melewati pintu yang tepat untuk menuju kehidupan. Itulah sebabnya Yesus pun mengumpamakan diri-Nya sebagai pintu. Sekarang tinggal domba menentukan pilihan. Mengetahui kualitas gembala, yang adalah Tuhan, maukah menjadi domba yang berkualitas sehingga bisa dituntun menuju kehidupan? (thie)