Jujur soal gawai

Jujur soal gawai

Artikel

“Engkau (Ananias) bukan mendustai manusia, tetapi …” (Kisah Para Rasul 5:4)

 

Ketika melihat seseorang begitu asyik dengan gawainya kadang saya berpikir bahwa saya bisa salah sangka padanya. Saya pikir dia sedang chatting-an, ngobrol melalui media sosial (medsos). Sebagai media komunikasi dan berbagi informasi maka hal itu sangat baik. Namun jika intensitasnya terlalu terlalu lama tidak adakah aktivitas lain yang lebih produktif bisa dilakukan? Memang piranti itu beserta aplikasi di dalamnya bermanfaat, namun tidak adakah hal bermanfaat lain di luar gawainya? Saya lalu ingat bahwa dalam gawai ada aplikasi Alkitab dan renungan. Bisa jadi orang yang saya lihat tidak sedang bertekun dengan chatting-an tapi dengan firman Tuhan. Bisa jadi juga melalui obrolan di medsos ia sedang membimbing seseorang yang akan bunuh diri. Siapa yang tahu? Jangan-jangan saya salah sangka?

Saya juga ingat cerita seorang warga gereja yang bekerja di bidang pemasaran hotel. Ia mengatakan bahwa gawainya aktif 24 jam. Sewaktu-waktu ia mesti memeriksa informasi yang masuk dan meng­-update­ informasi, misalnya soal ketersediaan kamar hotal. Ia juga rutin memeriksa pesan yang masuk dari konsumen yang membutuhkan informasi kamar hotel. Itulah tanggung jawab profesinya – profesionalismenya. Namun hal itu juga dilakukan saat ia mengikuti kebaktian Minggu. Mungkin saat pendeta mengajak jemaat membuka Alkitab ia membuka aplikasi Alkitab. Nah setelah itu siapa yang akan tahu kalau ia membuka aplikasi lain yang tidak ada hubungannya dengan kebaktian? Dalam konteks ini saya lantas berpikir bagaimana orang Kristen zaman sekarang menyediakan waktu pribadi “berjumpa” dengan Tuhan dalam kaitan: Ingat dan kuduskanlah hari Sabat?

 Tidak bisa dipungkiri bahwa zaman sekarang banyak orang sebagian hidupnya beraktivitas dengan gawai. Sebagai ladang mencari nafkah. Berkomunikasi. Berbagi serta mencari informasi. Sebagai sarana tombo kangen dengan sanak keluarga yang jauh. Jelas bahwa kemajuan teknologi ini tidak bisa kita hindari.

Karena menolak tidak mungkin ya ikuti saja perkembangannya, hanya saja mungkin kita perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis soal gawai. Semisal, kapan atau pada saat apa saya menggunakannya? Dimana saya menggunakannya? Untuk apa saya menggunakannya? Mengapa saya menggunakannya? Sudah tepatkah itu semua? Jujur soal gawai: kita yang menggunakannya, atau ia yang menggunakan kita?

Seperti Ananias dan Safira. Mereka punya sebidang tanah. Bila tanah itu dijual hasilnya tetap menjadi milik mereka. Akan digunakan untuk apa terserah mereka. Jikalau mereka menyimpan separuhnya itu hak mereka. Jika separuhnya lagi diberikan sebagai persembahan agar dibagikan pada orang yang membutuhkan, itu perbuatan mulia. Pemanfaatan harta yang bijak. Namun jika yang separuh dipersembahkan itu diakui sebagai seluruhnya, apa itu artinya? Salam. (YAD)