BUKAN DENGAN BARANG FANA

BUKAN DENGAN BARANG FANA

Renungan

I Petrus 1:17-23
 

Dalam kehidupan kekristenan, Petrus adalah murid yang diberi kunci kerajaan sorga oleh Tuhan Yesus (Matius 16:19). Dialah yang mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan segala hal yang ada di dunia. Dalam tradisi Perjanjian Lama, kunci ini dipegang oleh Elyakim yang berkuasa atas Rumah Daud sebagai lambang kekuasaan kerajaan Yehuda (Yesaya 22:22). Kuasa penuh yang diberikan kepada keduanya, menurut sejarawan abad pertama, Flavius Josephus, adalah kuasa untuk mengatur hak dan kewajiban masyarakat. Kuasa untuk menghukum dan mengampuni. Kuasa untuk mengesahkan atau tidak dan mengijinkan atau tidak. Mirip undang-undang tertinggi yang di dalamnya terdapat norma pengatur kehidupan bermasyarakat.

Dalam konteks itulah kita dapat lebih mudah memahami pernyataan Petrus: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus..." (ayat 18-19). Pernyataan itu menunjukkan kuasa Petrus yang diungkapkan secara tegas dengan menunjuk darah Kristus sebagai penebus cara hidup yang sia-sia. Darah yang tercurah karena siksaan dan deraan, bahkan tusukan. Semua itu terjadi karena begitu besarnya kasih Allah atas dunia ini. Itulah pengurbanan terbesar yang tak tertandingi oleh apapun. Tak terukur nilainya dan tak terkira harganya.

Jika sedemikian besarnya pengurbanan Kristus atas kita, lalu apakah yang harus dilakukan sebagai wujud syukur? Pada ayat selanjutnya, Petrus memerintahkan tiap-tiap orang untuk mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas dan hendaklah tiap-tiap orang bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati (ayat 22). Kasih yang tulus ikhlas dengan segenap hati, adalah kasih tanpa pamrih kecuali demi kemuliaan nama Tuhan. Dalam setiap aspek kehidupan, tebusan yang mahal itu perlu direspon dengan segala kebaikan dan kasih tulus ikhlas yang tertuju demi kebesaran nama Tuhan.

Nah, jika Petrus diberi kuasa sebagai pemegang kunci dan telah mengajarkan tentang kebenaran kepada kita, maka kunci itu sekarang ada pada kita. Bukankah kita punya kuasa mengasihi atau menghukum saudara kita? Kita memiliki kuasa untuk menyatakan kehendak Allah atau menolaknya. Kita bahkan punya kuasa atas diri kita sendiri. Hendak menjadi orang arogan atau orang yang lemah lembut. Menjadi angkuh atau rendah hati. Memilih latah menghujat atau menahan diri. (SAN).