Kebangkitan Kristus Menjadi Sumber Sukacita

Kebangkitan Kristus Menjadi Sumber Sukacita

Renungan

Yohanes 20:24-31

Semua makhluk yang hidup di dunia ini ingin bahagia atau sukacita. Maka kita manusia yang juga ingin merasakan hal tersebut lalu mengupayakan bagaimana caranya bisa memperoleh dan merasakan kesukacitaan. Takaran seseorang merasakan kebahagian hidup tidak bisa dipakai untuk orang lain, artinya ukuran dan prasyarat orang merasakan bahagia atau suka cita itu sangat beragam. Dampak dari peristiwa Tuhan Yesus yang dianiaya hingga wafatNya di kayu salib, sangat membekas bagi para murid dan pengikutNya, dan bekas yang paling menonjol adalah rasa takut. Sekurang-kurangnya terlihat ketika mereka bertemu di sebuah rumah dilakukan dengan cara pintu yang terkunci, hal ini menggambarkan rasa takut yang mereka miliki. Mereka takut untuk menunjukkan jati diri, takut terhadap orang yang berbeda, akibatnya mereka tidak bisa menjalani hidup secara normal dan wajar. Murid-murid dan para pengikut Kristus yang ada dalam kondisi demikian ini, bisa dipastikan mereka kehilangan kesukacitaan hidup. Setelah bangkit dari antara orang mati, ketika Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-muridNya Tuhan Yesus menyapa mereka dengan mengatakan damai sejahtera bagi kamu, atau dengan jangan takut. Memperhatikan narasi dari perikop yang mengkisahkan tentang Tuhan Yesus yang menampakkan diri kepada murid-murid yang menjadi bahan perenungan kita saat ini, ada beberapa hal yang layak kita perhatikan: - Salam pertama yang diucapkan oleh Tuhan Yesus, “damai sejahtera bagi kamu,” damai sejahtera berasal dari kata eirene, kata ini juga berarti perdamaian, keserasian, ketertiban. Memperhatikan cakupan arti eirene ini, maka makna salam Tuhan Yesus hal damai sejahtera itu bukan sebuah paket yang turun dari surga ke atas bumi yang tidak membutuhan tanggapan dari pihak manusia. Damai sejahtera akan terjadi jika manusia juga mau mengupayakan hidup berdamai dengan yang lain, membangun keharmonisan bersama, dan hidup tertib berdasarkan tatanan yang berlaku. Dengan demikian damai sejahtera adalah anugerah dari Tuhan yang akan terwujud melalui keterlibatan manusia. - Respon Tuhan Yesus terhadap Thomas yang ingin membuktikan kebangkitanNya. Tuhan Yesus memberikan diriNya untuk diselidiki dan dibuktikan dengan tujuan supaya Thomas jangan tidak percaya lagi. Dalam hal ini ada yang sangat menarik, karena yang tidak terbatas {Kristus} memberikan diriNya untuk diselidiki, dibuktikan, oleh yang terbatas {Thomas; manusia}, dengan tujuan untuk menolong manusia agar manusia jangan tidak percaya; bahasa aslinya memakai dua kata yaitu ginou dan apistos. Ginou adalah ajakan untuk tidak melanjutkan atau memelihara sikap tertentu, sedangkan apistos berarti tidak percaya atau tidak setia. Dengan demikian Kristus mau diselidiki supaya manusia tidak mempertahankan sikap tidak percaya dan tidak setianya kepada Tuhan. Kata percaya di ayat 29 dan 31 kalau dilihat dari bahasa aslinya maknanya semakin menukik, karena kata pisteuo yang diterjemahkan dengan percaya, juga berarti beriman atau mempercayakan diri kapada Tuhan. Tuhan Yesus menyebut orang yang percaya “beriman, menyerahkan diri” kepada Tuhan tanpa menyelidiki membuktikan kebangkitanNya sebagai orang yang berbahagia bahkan yang “makarioi” diberkati. Kebangkitan Kristus dari antara orang mati adalah bukti akan kuasaNya, bahwa Ia telah mengalahkan maut dan kuasa dosa. Semua itu menjadi dasar sekaligus jaminan bagi manusia beroleh selamat. Keselamatan adalah hal yang diingini oleh semua manusia. Ketika keselamatan itu ada di dalam Kristus dan karya penyelamatan bagi manusia telah dituntaskan hingga kebangkitanNya, maka orang yang percaya {mengimani, menyerahkan diri}pada kebangkitan Kristus mestinya menjadi sumber sukacita hidupnya. (SWD)