Pintu Keputusan

Pintu Keputusan

Artikel

Hari ini adalah hari inisiasi menuju kedewasaan. Setiap orang berdiri dalam antrian yang panjang. Semuanya menuju pada pintu Keputusan. Antrian yang panjang ini dipenuhi oleh berbagai wajah. Ada yang terlihat antusias, ada yang terlihat kuatir. Beberapa bahkan bertukar tempat. Ada yang ingin cepat-cepat mencapai pintu Keputusan, ada yang enggan dan merelakan tempatnya agar bisa menunda mencapai pintu.

 

Ini kebiasaan di tempatku. Pintu Keputusan ini satu dari beberapa pintu lain yang menandai kau sudah menjadi dewasa. Pintu ini adalah inisiasi awal, menandai kau seorang yang mampu mengambil pilihan bagi dirimu sendiri dan bertanggung-jawab penuh dengan pilihan-pilihan tersebut. Aku sudah mendengar beberapa cerita yang beredar dari orang-orang yang sudah lebih dulu melakukan inisiasi. Ceritanya tidak pernah sama. Padahal mereka diinisiasi melalui pintu yang sama. Tetapi tidak pernah ada cerita yang persis sama seorang dengan yang lain.

 

Terlalu banyak mendengar cerita, membuatku jadi sedikit takut. Pernah ingin bertukar tempat seperti beberapa orang. Tapi rasa penasaranku juga sama besarnya.

 

Semakin dekat aku dengan pintu, aku semakin bisa melihat dengan jelas pemandangan di sana. Tapi ini jadi aneh kau tahu? Mereka yang keluar dari sana selalu terlihat berbeda dari yang sebelumnya. Baju kanak-kanak mereka tidak lagi mereka kenakan. Bagaimana ini? Padahal ini baju kesukaanku. Apa menjadi dewasa itu berarti harus mengganti baju? Ini menyebalkan.

 

Lihat! Tampilan mereka begitu membosankan. Setelan jas, dasi, sepatu mengilap, gaun, toga, begitu terus. Warnanya pun seperti hari yang mendung. Menjadi dewasa benar-benar membosankan kalau seperti ini. Tidak heran banyak orang gelisah seperti aku. Baju kanak-kanak kami jelas lebih nyaman dipakai. Terbuat dari mimpi dan cita-cita. Tidak ada tekanan, dan semuanya tahu dengan baju ini kami bisa jadi apa saja. Kau bisa lihat buktinya di antrian panjang ini. Tak ada seorang pun yang memiliki baju kanak-kanak yang sama dengan yang lain.

 

Ah! Giliranku tiba. Aku jadi benar-benar gelisah sekarang, dan entah kenapa rasa-rasanya ingin marah. Tapi toh aku masuk juga, membuka pintu Keputusan, karena memang sudah waktunya untukku.

 

Aku terkejut! Ini seperti lemari baju raksasa! Memang kita harus bertukar baju. Tapi yang membuatku terkejut adalah, ada banyak sekali pilihan disini. Ada banyak corak dan warna, motif dan desainnya pun beragam. Lalu kenapa orang-orang itu memilih baju yang itu-itu saja? Mereka benar-benar akan membuat orang-orang yang masih berada di antrian menyangka kedewasaan adalah hal yang membosankan.

 

“Silahkan pilih pakaianmu!” seru suara yang mengejutkanku, sementara aku tidak melihat seorang pun di sana.

 

“Er..apa ada ketentuan khusus? Apa aku harus berpakaian seperti yang lainnya?” tanyaku ragu, tapi aku benar-benar tidak ingin melepas baju ini, ini kesayanganku.

 

“Hah? Jelas tidak ada. Ini hidupmu dan keputusanmu.” Balas suara itu, bergema di ruangan besar itu.

 

***

 

Aku menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam sana. Mencari sesuatu yang layak untuk dikenakan selama waktu hidupku. Aku jelas tidak mau menyesal menghabiskan hidup dengan baju yang tidak nyaman. Jadi aku putuskan memilih baju yang sama dengan baju kanak-kanak kesayanganku. Tidak persis sama memang. Ukurannya jadi jauh lebih besar. Bahannya jadi jauh lebih kaku, tapi katanya itu karena baru dipakai, jika sudah lama akan jadi lembut di badan.

 

Tidak heran orang-orang di antrian menatapku dengan tatapan tidak percaya. Aku masih mengenakan kaos oblong putihku yang penuh dengan noda cat berwarna-warni, dan celana jins belel yang ukurannya juga lebih besar. Ini keputusanku, aku tetap dengan baju dari bahan mimpi yang sama. Tapi yang jelas aku sudah bukan orang yang sama saat masih berada di antrian. Aku sudah diinisiasi jadi dewasa, tanpa menjadi sama dengan dunia. Aku mau mereka yang masih di antrian tahu kalau hidup tidak membosankan, dan itu tergantung pilihan kita.

 

Sekarang aku benar-benar tidak masalah kalau mereka akan menyebutku ‘gila’. Setidaknya aku tidak sama dengan yang lain. (Ge)

 

 

“And be not fashioned according to this world:

but be you transformed by the renewing of your mind,

and you may prove is the good and acceptable and perfect

will of God.”

       in Paul’s letter for people at Rome.