Menyatakan Pekerjaan Allah

Menyatakan Pekerjaan Allah

Renungan

Seorang teman mengirimkan sebuah pesan di sebuah grup whatsapp. Sebagian isinya adalah sebagai berikut:

Saat arisan, seorang ibu bertanya, ”Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit, ya, Jeng? Bukankah anak-    anakmu banyak?”
Maka rumah yang tadinya terasa lapang, sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya.     Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar     dengan cara kredit ke bank.
Seorang teman bertanya, “Berapa gajimu sebulan kerja di toko itu?” Ia menjawab, “1,5 juta rupiah.”     Temannya menimpali, “Cuma 1,5 juta rupiah? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa cukup     untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?”
Sejak saat itu, ia jadi membenci pekerjaannya. Ia lalu meminta kenaikan gaji kepada pemilik toko.     Pemilik toko menolak dan malah mem-PHK-nya. Kini ia menjadi pengangguran dan tidak memiliki     penghasilan.

Pesan tadi bertujuan supaya orang berhati-hati dalam berkata kepada orang lain supaya tidak mencampuri kehidupan mereka atau bahkan membuat hati dan hidup mereka menjadi sempit. Di sisi lain, kata-kata itu bisa kita lihat sebagai ungkapan yang menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan hanya melihat sisi buruk dari hal-hal yang dilihatnya. Rumah dipandang terlalu sempit, gaji pun dipandang terlalu sedikit. Padahal rumah itu adalah berkat Tuhan bagi keluarga itu sehingga bisa berteduh dan beristirahat. Gaji itu pun berkat Tuhan yang membuat pekerja itu bisa menjalani kehidupan dengan mencukupkan berkat yang ia terima. Namun pandangan yang sempit membuat berkat itu tampak sebagai kutuk.
Kalau saja orang buta dalam kisah Injil hari ini termakan omongan para murid Yesus, ia pasti akan merasa terpuruk. Membayangkan kebutaannya adalah akibat dosa saja sudah menyakitkan. Terlebih jika memang kebutaan itu adalah akibat dosa orangtuanya. Betapa tak adilnya! Orangtuanya yang berdosa, mengapa dia yang menjadi buta? Namun Yesus membalik cara pikir para murid. Kebutaan dianggap hal yang salah dan buruk oleh manusia. Namun dalam kerangka karya Allah, kebutaan orang itu menjadi jalan pekerjaan Allah dinyatakan. Dalam kisah ini, karya itu adalah meleknya mata orang buta itu, sadarnya para murid dari kesalahan cara berpikir mereka, dan keterbukaan orang-orang di daerah itu terhadap mujizat yang mungkin terjadi.

Dalam hidup kita ada banyak “kecacatan”. Bisa jadi dalam hal fisik, kemampuan, hasil pekerjaan, cara mengelola keluarga, atau cara menghidupi persekutuan di gereja. Namun segala hal itu menjadi cacat bergantung pada cara pandang kita. Jika kita melihatnya bukan sebagai kecacatan, melainkan keberbedaan, kita bisa mengelolanya menjadi jalan untuk menyatakan pekerjaan Tuhan. Orang buta bisa jadi memiliki kepekaan suara yang lebih tinggi, sehingga bisa menjadi penggubah lagu yang indah sekalipun tidak bisa melihat alat musik yang ia mainkan. Orang yang gagal dalam berumah tangga bisa jadi bangkit dari kekecewaan dan keterpurukannya sehingga bisa menjadi teman atau konselor yang handal bagi orang-orang yang sedang berada dalam permasalahan rumah tangga. Mantan narapidana bisa jadi bertobat dari kejahatannya dan mengkhususkan dirinya untuk melayani para narapidana supaya mereka tidak patah semangat dan berani menjalani kehidupan baru. Semua itu adalah pekerjaan Tuhan yang nyata melalui orang-orang yang biasa dianggap “cacat” oleh orang lain. “Kecacatan” mereka tidak menghalangi mereka untuk menyatakan pekerjaan Allah.
Sekarang orang biasa mengganti istilah cacat dengan difabel. Kata difabel berasa dari different ability, berkemampuan berbeda. Istilah ini menunjukkan bahwa mereka memang berbeda dari orang-orang lain, tetapi bukan berarti mereka tidak berarti. Mereka yang berbeda itu juga memiliki kemampuan yang berbeda sehingga hidup mereka pun bermakna. Kiranya kita bisa menggunakan istilah ini sebagai pengingat ketika sedang terpuruk karena kecacatan atau kegagalan, atau kita memandang rendah orang lain karena kekurangan dan kecacatan mereka. Dari kecacatan yang ada bisa tumbuh kemampuan untuk menyatakan pekerjaan Allah. Jadi bersyukurlah dengan apa yang ada pada saat ini dan bangkitlah untuk menyatakan pekerjaan Allah! (thie)