PERCAKAPAN YANG MENDATANGKAN BERKAT

PERCAKAPAN YANG MENDATANGKAN BERKAT

Renungan

YOHANES 4:5-42


Suatu saat saya mendapat kiriman gambar meme dari seorang kolega. Di gambar itu ada dua orang karib dan di atasnya terdapat tulisan dalam Bahasa Inggris: True friends don't judge each other, they judge other people together (sahabat sejati tidak saling menghakimi/menjelekkan, tetapi mereka menjelekkan orang lain bersama-sama). Sontak saya tertawa membaca kiriman itu. Sebuah otokritik terhadap relasi sosial kita. Bukankah jamak hal itu terjadi? Suatu percakapan akan gayeng dan langgeng manakala dalam percakapan itu ada obyek olok-olok. Ada orang (atau lembaga) yang sedang dibicarakan dan biasanya membicarakan kejelekannya. Terselip juga gurauan yang terkesan melecehkan atau bahkan merendahkan obyek dimaksud. Pembicaraan seperti ini biasanya berakhir tanpa solusi. Masing-masing merasa puas karena bisa menertawakan orang lain.
Bacaan hari ini berisi kisah percakapan di antara Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Suatu proses percakapan yang tidak wajar, sebab seorang perempuan Samaria (pada waktu itu) biasanya tidak akan bercakap-cakap dengan orang asing, apalagi laki-laki Yahudi (ayat 9, 27). Juga kebiasaan mengambil air, biasanya dilakukan dengan cara berkelompok dan tidak seorang diri. Akan tetapi perjumpaan di antara Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria telah meluruhkan semua kebiasaan pada waktu itu. Belum lagi materi percakapan yang mengalir begitu alami dan mendalam. Dimulai dari kebutuhan akan air, sebab lebih dari 70% tubuh manusia terdiri dari air. Kemudian dilanjutkan dengan pernyataan Tuhan akan Air Hidup yang memberikan kesegaran dan membuat orang tidak akan haus lagi. Air Hidup itu tidak lain adalah Roh Kudus, sehingga perempuan Samaria itu mengalami perubahan. Perubahan sejati adalah tahu akan dosa, sadar akan dosa dan meninggalkan dosa. Respon perubahan dalam diri perempuan Samaria, memberikannya keberanian untuk memberitakan berita baik kepada orang-orang banyak yang ditulis pada ayat-ayat selanjutnya (28-30, 39-42).
Nah, bagaimanakah pola percakapan kita selama ini? Adakah kita membicarakan sesuatu yang membangun orang lain atau lembaga (gereja, pemerintah, dll)? Atau justru kita lebih suka mencari obyek cercaan bersama-sama tanpa ada solusi untuk mengatasi keprihatinan yang terjadi? Di media sosial (medsos), jenis obrolan apakah yang kita sukai? Jika kita punya grup obrolan di medsos, materi-materi apakah yang mendominasi obrolan kita? Percakapan di antara Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria adalah contoh percakapan yang membangun dan menggerakkan orang untuk menjadi percaya (ayat 42). Marilah kita merancang dan mengarahkan suatu model percakapan yang membangun sesama dan semesta! Setidaknya, menghindari olok-olok atau sikap merendahkan yang lain. Lebih baik lagi jika percakapan itu berisi tekad untuk memperbaiki kesalahan pribadi dan mengubahnya menjadi kebaikan bersama. (SAN).